NUSANTARA — Panen perdana Padi Gogo di Demplot Pertanian Konservasi Kelompok Tani Mekar Jaya, Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara, menjadi penanda awal pengembangan pertanian inovatif di kawasan delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, hadir langsung bersama jajaran dan Dharma Wanita Persatuan. Pemerintah Kutai Kartanegara turut diwakili Wakil Bupati Rendi Solihin.
Dalam kegiatan tersebut, kelompok tani berhasil mengembangkan Padi Gogo di lahan seluas 20 hektare sebagai uji coba tahap awal. Hasil produksi menunjukkan kualitas yang dinilai lebih pulen, enak, dan gurih dibandingkan varietas beras lainnya.

Basuki Hadimuljono mengapresiasi inovasi yang dilakukan petani bersama berbagai pihak dalam pengembangan sektor pertanian di IKN.
“Hasil ini sudah bagus, luar biasa. Ke depan jika diperluas, ini akan sangat potensial. Kita akan dukung dan pelihara sebagai kawasan pertanian bagi IKN,” ujarnya.
Dari hasil uji coba, varietas IPB 9G mampu menghasilkan gabah kering panen (GKP) sebesar 4,224 ton per hektare. Varietas ini dikembangkan di lahan seluas 5 hektare, sementara 15 hektare lainnya menggunakan varietas lokal.
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, menjelaskan bahwa panen ini merupakan hasil uji coba selama empat bulan yang dilakukan bersama Institut Pertanian Bogor.
“Alhamdulillah hasil panen sudah memenuhi harapan. Ini menjadi evaluasi penting untuk pengembangan ke depan,” jelasnya.
Program ini juga sejalan dengan agenda nasional di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan. Padi Gogo diharapkan menjadi alternatif strategis dalam meningkatkan produksi beras nasional.
Selain Otorita IKN, kegiatan ini turut melibatkan berbagai pihak seperti Bank Indonesia, unsur TNI–Polri, asosiasi petani, penyuluh lapangan, serta perusahaan seperti PT Pupuk Kalimantan Timur dan Pertamina Hulu Mahakam.
Melalui panen perdana ini, Otorita IKN menegaskan komitmennya dalam mendorong sektor pertanian berbasis inovasi dan kolaborasi. Pengembangan pertanian konservasi diharapkan mampu menciptakan ekosistem produktif sekaligus memperkuat ketahanan pangan di kawasan ibu kota baru. (MK)
Penulis: Atmaja Riski
Editor: Agus S




