NUSANTARA – Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menghadirkan sentuhan kearifan lokal Kalimantan Timur dalam tradisi buka puasa bersama di Masjid Negara. Menu takjil bertajuk “Bubur Rempah Nusantara” disajikan setiap hari sepanjang Ramadan dengan jumlah minimal 600 porsi.
Bubur ini sejatinya merupakan bubur Peca yang telah lama dikenal di Kelurahan Baqa, Samarinda Seberang. Di IKN, olahannya sedikit dimodifikasi tanpa menghilangkan cita rasa khasnya. Bahan utama tetap beras dan santan kelapa, dipadukan kornet sapi serta racikan rempah nusantara yang kuat dan gurih saat disantap hangat.

Aromanya yang sedap langsung menggugah selera. Takjil tersebut dikemas bersama kurma dan air mineral untuk dibagikan kepada jemaah yang berbuka puasa di lantai dua Masjid Negara IKN.
Yeni, juru masak yang menyiapkan bubur tersebut, memastikan bahan yang digunakan bergizi dan tanpa pengawet. “Bubur rempah nusantara ini dari bahan-bahan bergizi, antara lain kornet sapi. Bubur ini juga tanpa bahan pengawet,” ujarnya.
Dalam sehari, ia bersama dua rekannya memasak hingga 600 porsi. “Masaknya kita cuma tiga orang,” tuturnya.
Menjelang waktu berbuka, bubur mulai dikemas dan disusun rapi. Sejumlah ASN Otorita IKN turut membantu menata dan mendistribusikan takjil menggunakan troli makanan.
Deputi Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, mengatakan tradisi ini diharapkan menjadi bagian dari identitas Ramadan di IKN. Bubur Peca yang biasa disajikan di Samarinda Seberang kini diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.
“Sebenarnya itu adalah bubur peca, kita bawa ke sini ternyata antusias. Masyarakat suka. Ada beberapa warga lokal yang saya suruh belajar membuat bubur itu,” ujarnya.
Ia juga menyoroti semangat toleransi di lingkungan Otorita IKN. ASN non-muslim turut terlibat dalam menyiapkan takjil bersama rekan-rekan muslim.
“Pegawai-pegawai kita yang non-muslim, baik yang Buddha, Kristen, maupun Katolik, bersama-sama menyiapkan menu takjil dengan teman-teman muslim yang berpuasa,” ungkapnya.
Tradisi bubur rempah ini tak hanya menghadirkan cita rasa lokal, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi di jantung ibu kota baru Indonesia. (MK)
Editor: Agus S




