BONTANG – Guna memperbaiki sistem pengelolaan sampah dan mempercepat terwujudnya Bontang Zero Waste 2029, Pemkot Bontang bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jeju – Korsel, dan KOICA. Dalam kerjasama kali ini, pemkot menerima hibah Rp 155 Miliar.
Wali Kota Neni menjelaskan, bahwa kunjungan Pemprov Jeju ini merupakan yang ketiga kalinya, setelah pertemuan pertama pada September 2023 dan kedua pada Desember 2024. Kali ini, kegiatan difokuskan pada pre-feasibility survey dan finalisasi rencana implementasi proyek, dengan nilai hibah yang diperkirakan mencapai USD 9,3 juta atau sekitar Rp155,9 miliar.
“Nilai besar ini merupakan amanah yang akan kami kelola dengan penuh tanggung jawab, transparansi, dan akuntabilitas,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bunda Neni mengungkapkan bahwa dengan usia Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bontang Lestari yang hanya tersisa sekitar 3–4 tahun, Kota Bontang membutuhkan inovasi pengelolaan baru yang lebih efisien dan berwawasan lingkungan.
Terlebih, sesuai arahan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mulai tahun 2030 pemerintah daerah tidak lagi diperkenankan memperluas atau membangun TPA baru, sehingga pengelolaan sampah dari sumbernya menjadi keharusan.
“Proyek ini tidak hanya memperkuat sistem pengelolaan sampah di Bontang, tetapi juga diharapkan menjadi model nasional pengelolaan sampah menjadi energi terbarukan, serta kontribusi nyata terhadap upaya global menekan emisi karbon,” pungkas Neni.
Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam




