BONTANG – Kolaborasi Pemkot Bontang, Pemerintah Provinsi Jeju, dan KOICA diharapkan dapat menjadi percontohan kota berkelanjutan di Indonesia, sekaligus memperkuat posisi dalam jaringan kerja sama internasional di bidang pengelolaan lingkungan dan energi hijau.
“Kunjungan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kerja sama antara Pemerintah Kota Bontang, Pemerintah Provinsi Jeju, dan KOICA. Kami berharap kolaborasi ini membawa perubahan nyata dalam sistem pengelolaan sampah dan mempercepat terwujudnya Bontang Zero Waste 2029,” ujar Wali Kota, Neni.
Lebih lanjut, Bunda Neni mengungkapkan bahwa dengan usia Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bontang Lestari yang hanya tersisa sekitar 3–4 tahun, Kota Bontang membutuhkan inovasi pengelolaan baru yang lebih efisien dan berwawasan lingkungan.
Terlebih, sesuai arahan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mulai tahun 2030 pemerintah daerah tidak lagi diperkenankan memperluas atau membangun TPA baru, sehingga pengelolaan sampah dari sumbernya menjadi keharusan.
“Proyek ini tidak hanya memperkuat sistem pengelolaan sampah di Bontang, tetapi juga diharapkan menjadi model nasional pengelolaan sampah menjadi energi terbarukan, serta kontribusi nyata terhadap upaya global menekan emisi karbon,” pungkas Neni.
Diketahui, Pemerintah Kota Bontang menerima kunjungan Tim Survey KOICA Indonesia Office, delegasi Pemerintah Provinsi Jeju – Korea Selatan, serta perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dalam rangka pembahasan rencana kerja sama, pre-feasibility survey, dan finalisasi rencana implementasi proyek pengelolaan sampah ramah lingkungan, Selasa (3/11) malam.
Kunjungan tersebut berlangsung di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang dan disambut langsung oleh Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni.
Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam




