Tekanan Ekonomi Pemicu Terbesar Perceraian, Begini Cara Islam Menyelamatkannya

Oleh:
Rahmi Surainah, M.Pd
Alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin

Tekanan ekonomi kembali menjadi pemicu terbesar perceraian di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim). Kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, ditambah kasus perselingkuhan, membuat banyak rumah tangga tak mampu bertahan.

Ketua Gerakan Keluarga Sakinah (GKS) Bontang, Amir L, mengatakan banyak pasangan yang terjebak dalam kesenjangan antara pendapatan dan kebutuhan harian. Data GKS menunjukkan hingga November 2025, 100 kasus perceraian masuk ke Pengadilan Agama (PA) Bontang.

Melihat situasi itu, GKS bersama PA Bontang berupaya menekan perceraian dari hulu dengan membuka kelas edukasi. Serta pendampingan dengan menjadi ruang mediasi sebelum perceraian. (Pranala.co,19/11/2025)

Tidak hanya tekanan ekonomi, perceraian juga terjadi di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Bontang. Tercatat sembilan kasus perceraian ASN pada Januari hingga November 2025. Menyikapi hal tersebut, Pemkot Bontang melalui Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) menggelar Pelatihan Deteksi dan Mediasi Perselisihan Rumah Tangga untuk memperkuat ketahanan keluarga ASN.

Pelatihan tersebut bertujuan untuk memberikan keterampilan kepada ASN dalam menjaga keharmonisan rumah tangga mereka, serta mempersiapkan mereka menjadi mediator di unit kerjanya, agar permasalahan rumah tangga tidak mengganggu kinerja di kantor. (Bontangpost.id, 19/11/2025)

Baca Juga:  Stunting yang Kian Genting

Selamatkan Pernikahan!

Tekanan ekonomi menjadi pemicu terbesar di Kota Bontang. Padahal kalau dilihat Kota Bontang terkenal sebagai kota industri (migas dan pupuk), penghasil gas alam terbesar di Indonesia, dan memiliki potensi pariwisata seperti Bontang Kuala, Pulau Beras Basah, dan Taman Nasional Kutai. Namun potensi tersebut tidak berkorelasi dengan kesejahteraan rakyatnya, terbukti perceraian terjadi salah satunya dipicu karena tekanan ekonomi.

Faktor penyebab perceraian tidak hanya karena ekonomi. Bagi rumah tangga yang mapan, misalnya ASN maka perselingkuhan di tempat kerja jadi penyebabnya. Selain itu, judol, game online, KDRT, dsb.

Semua pemicu tersebut bisa dihindari, tentunya suami isteri harus paham agama, memahami hak kewajiban suami isteri, dan memahami tata cara pergaulan dalam Islam. Mulai dari memilih calon, bagaimana menuju proses pernikahan dan kehidupan rumah tangga itu sendiri. Namun sayang pemahaman agama ini semakin dijauhkan dari kehidupan (sekulerisme).

Jangankan negara, keluarga pun tak luput dari paham sekularisme kapitalis. Agama dijauhkan akibatnya suami isteri kering nilai rohani, akhlak buah dari pemahaman agama pun rendah. Akibatnya pernikahan rapuh dan mudah bercerai.

Baca Juga:  Hubungan Kasus TBC Meningkat dengan Kemiskinan

Perceraian sudah sistemik, tidak cukup hanya peran individu. Di sini betapa negara sebenarnya penting berperan agar bekal rumah tangga disiapkan sejak dini. Dengan mengondisikan sistem pendidikan, media, ekonomi, sosial dstnya agar rumah tangga kokoh.

Pemerintah seharusnya andil dan peduli terhadap persoalan keluarga. Jangan sampai di sini, media termasuk kehidupan sosial jauh dari nilai agama. Media bebas, hubungan sosial pun tanpa batas. Akibatnya rawan perselingkuhan dan berujung perceraian.

Islam Kokohkan Pernikahan

Dengan Islam ikatan rumah tangga akan kokoh. Sistem pergaulan dalam Islam mampu menjaga hubungan suami istri agar terhindar dari perselisihan dan perselingkuhan. Islam bukan hanya sekedar agama, jika diterapkan dalam kehidupan maka kehidupan keluarga akan sejahtera.

Beberapa prinsip penting ajaran Islam yang tidak pernah usang dan selalu relevan bagi keluarga harus dijadikan pegangan dalam kehidupan. Realisasi nilai keagamaan Islam ini tentunya akan berjalan jika negara menerapkannya dalam kehidupan.

Di antaranya, pertama, Islam mempromosikan dan memuliakan pernikahan sebagai satu-satunya metode melestarikan keturunan. Kedua, Islam menurunkan seperangkat hukum berkeluarga yang menata pembagian peran antara suami isteri, mengatur pola persahabatan diantara mereka.

Baca Juga:  Penundaan Pengangkatan CPNS dan PPPK Berujung Tuntutan

Ketiga, Islam menekankan betapa bergengsinya peran sebagai ibu. Keempat, tujuan berkeluarga dalam Islam adalah ibadah. Kelima, Islam memberikan fondasi keimanan dan ketawakalan akan rezeki sehingga tidak menggoyahkan pembagian peran dalam keluarga, yakni suami penanggung jawab jaminan nafkah.

Selanjutnya keenam, Islam menerapkan sistem ekonomi yang sehat dengan menolak model keuangan ribawi, melarang penimbunan kekayaan atau privatisasi SDA sehingga tidak akan terjadi kemiskinan dan sulitnya lapangan pekerjaan. Ketujuh, Islam mewajibkan penguasa negeri-negeri muslim untuk bersatu sehingga mampu menjamin ketahanan keluarga, kehormatan kaum ibu dan kemulian generasi.

Demikianlah Islam menjaga keutuhan rumah tangga, menjaga keluarga dari kehancuran termasuk perceraian. Islam mampu memberikan solusi dari tingginya perceraian. Islam pun menjaga dan menangkal suami isteri untuk terhindar dari perselisihan, perselingkuhan dan perceraian.

Dengan sistem Islam maka individu kuat imannya, masyarakat sebagai kontrol amar ma’ruf nahi munkar, dan aturan negara. Negara yang menerapkan Islam beserta seperangkat sistem baik itu sistem ekonomi, pendidikan, pergaulan, sanksi dan hukum mampu menjaga ketahanan keluarga jauh dari perceraian.

Wallahu a’lam

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.