SANGATTA — Harapan warga Kecamatan Telen untuk menikmati akses darat yang layak kembali tertahan. Proyek pembangunan jalan poros yang digadang-gadang menjadi jalur utama mobilitas masyarakat pedalaman justru tersendat dan jauh dari target penyelesaian. Alhasil, akses antardesa masih terputus, sementara aktivitas ekonomi warga berjalan tersendat.
Camat Telen, Petrus Ivung, mengakui bahwa progres pembangunan jalan poros belum sesuai rencana. Dari total panjang enam kilometer yang ditargetkan, hingga saat ini baru empat kilometer yang rampung dikerjakan.
“Untuk jalan poros masih belum layak sepenuhnya. Tahun lalu sempat satu paket dengan program jembatan, tapi banyak kendala,” ujarnya.
Dua kilometer sisanya tidak tersentuh akibat hambatan teknis dan kondisi geografis yang menyulitkan pengerjaan. Tahun ini, pemerintah daerah hanya menambahkan satu kilometer anggaran lanjutan, namun penyelesaian total tetap terasa jauh dari harapan warga.
“Dari rencana enam kilometer, yang selesai hanya empat kilometer, dua kilometer terpotong. Tahun ini ditambah lagi satu kilometer,” jelas Petrus.
Lebih memprihatinkan, masih terdapat tujuh kilometer ruas jalan yang melintasi kawasan tertentu dan tidak dapat dibiayai menggunakan dana pemerintah. Hingga kini, belum ada solusi konkret mengenai bagaimana status kawasan tersebut dapat diselesaikan agar proyek bisa dilanjutkan.
“Ada tujuh kilometer dari poros Jalan Trans Kaltim yang tidak bisa dibiayai dana pemerintah karena masuk kawasan tertentu,” tambahnya.
Akibatnya, proyek berjalan parsial dan terhenti di batas kawasan tersebut, membuat warga di wilayah yang lebih dalam tetap bergantung pada jalur transportasi yang buruk dan rawan putus terutama saat hujan.
Sejumlah warga dan tokoh masyarakat menyuarakan kekecewaan mereka. Mereka menilai pemerintah harus mengambil langkah lebih berani dan terukur, termasuk koordinasi antarlembaga serta mencari alternatif pendanaan jika diperlukan.
“Jangan hanya menunggu. Kami butuh jalan ini untuk ekonomi dan kebutuhan harian,” keluh Daniel, salah satu warga.
Warga berharap pemerintah daerah bergerak cepat, tidak hanya mengumbar janji progres. Akses jalan merupakan urat nadi perekonomian, terutama bagi masyarakat pedalaman yang bergantung pada mobilitas hasil pertanian, perkebunan, hingga logistik antardesa.
Tanpa percepatan dan solusi nyata, proyek jalan poros Telen berpotensi terus terkatung-katung, meninggalkan warga dalam kondisi yang sama terisolasi di tengah derasnya pembangunan daerah lain.
Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam




