BONTANG – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bontang memaparkan peta daerah rawan konflik, yang menjadi kemungkinan terjadinya tindak premanisme maupun aktivitas ormas bermasalah.
Kepala Kesbangpol Bontang, Deddy Haryanto menjelaskan, bahwa daerah tersebut merupakan potensi terjadinya konflik sehingga perlu adanya pemetaan lebih lanjut terkait aktivitas yang ada.
“Pemetaan ini penting kita lakukan, bagaimana bisa kita melakukan intervensi kegiatan, ya harus berangkat dari data tersebut,” ujarnya.
Indikasi Jenis Konflik yang Rawan Terjadi di 15 Kelurahan:
Kelurahan Api-api: Kenalan remaja dan aliran menyimpang
Kelurahan Kanaan: Sengketa lahan atau tanah, kenakalan remaja dan miras
Kelurahan Satimpo: Ketenagakerjaan, sengketa tanah atau lahan dan kenalakan remaja
Kelurahan Bontang Lestari: Sengketa lahan, ketenagakerjaan dan tenaga kerja asing
Kelurahan Loktuan: Ketenagakerjaan, aliran menyimpang, kenalakan remaja, Miras dan narkoba, pencurian dan perkelahian
Kelurahan Tanjung Laut: Sengketa lahan, sengketa rumah ibadah, aliran menyimpang, narkoba, miras prostitusi, perkelahian, dan kenakalan remaja
Kelurahan Berbas Tengah: THM, miras, narkoba, perkelahian, pencurian, dannTindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO)
Kelurahan Guntung: Tapal batas, ketenagakerjaan danpengeboman ikan
Kelurahan Bontang Kuala: Sengketa lahan, narkoba, dan pengeboman ikan
Kelurahan Tanjung Laut Indah: Narkoba, pencurian
Kelurahan Berbas Pantai: THM, miras. narkoba, prostitusi, TPPO, perkelahian, dan pencurian
Kelurahan Bontang baru, Kelurahan Gunung Telihan, Kelurahan Gunung Elai dan Kelurahan Belimbing dengan rawan konflik yang sama yakni sengketa lahan atau tanah.
“Aspek kegiatan yang dikatakan bermasalah jika melakukan tindakan kekerasan, kemudian diintimidasi atau ancaman kepada masyarakat dengan bentrok antar ormas,” lanjutnya.
Selanjutnya pihaknya akan melakukan pemetaan lebih dalam, agar dapat mengetahui daerah mana saja yang dinyatakan paling rawan untuk mengantisipasi adanya potensi konflik sebelum meluas dan memecah belah masyarakat.
Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam




