Inflasi Bontang Terkendali, TPID Siapkan Intervensi Cegah Kenaikan Harga Akhir Tahun

BONTANG — Pemerintah Kota Bontang memastikan inflasi daerah masih berada dalam kondisi terkendali hingga akhir 2025. Meski demikian, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tetap menyiapkan langkah intervensi, guna mengantisipasi kecenderungan kenaikan harga sejumlah komoditas strategis menjelang tutup tahun.

Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) High Level Meeting TPID Semester II Tahun 2025, yang memaparkan hasil pemantauan Early Warning System (EWS) inflasi Kalimantan Timur.

Berdasarkan proyeksi, inflasi Desember 2025 diperkirakan berada pada rentang 0,02–0,76 persen (month to month), dengan tekanan utama berasal dari komoditas beras, minyak goreng, daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, tomat, serta angkutan udara.

Meski terdapat kecenderungan kenaikan harga di akhir bulan, TPID menilai kondisi inflasi Kota Bontang masih relatif lebih baik dibandingkan daerah lain di Kalimantan Timur. Namun, faktor psikologis pasar akibat kenaikan harga di daerah sekitar seperti Samarinda dan Balikpapan, dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas harga di Bontang.

Karena itu harga perlu tetap dijaga, agar tidak ikut terdorong naik. Intervensi tetap diperlukan supaya lonjakan harga tidak mengikuti daerah lain.

Baca Juga:  Puluhan Relawan Damkar Antusias Ikuti Peningkatan Kapasitas di Mako Disdamkartan Bontang

TPID juga menegaskan, pengendalian inflasi tidak hanya berfokus pada angka inflasi, tetapi juga level harga. Pemerintah tidak akan melakukan intervensi jika harga komoditas berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP), agar tidak merugikan petani maupun pedagang.

Berdasarkan neraca pangan Kota Bontang Desember 2025, sebagian besar komoditas berada dalam kondisi surplus dan aman, seperti beras, daging ayam ras, telur ayam ras, minyak goreng, dan daging sapi. Namun, dua komoditas masuk kategori waspada, yakni cabai rawit dan gula pasir, karena keterbatasan stok dan harga yang cenderung tinggi.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menyampaikan bahwa stabilitas harga dapat dijaga berkat berbagai kebijakan intervensi yang telah dilakukan pemerintah daerah. Mulai dari subsidi transportasi, pelaksanaan operasi pasar, hingga pembukaan Warung Tekan Inflasi (Wartekin) dan penjualan sembako murah saat momentum Natal dan Tahun Baru.

“Alhamdulillah inflasi masih terkendali. Memang ada beberapa komoditas seperti cabai rawit yang naik, tapi kita terus lakukan langkah antisipasi melalui early warning system, agar tidak terjadi lonjakan yang signifikan,” ujarnya.

Baca Juga:  Kebakaran Lahan di Dekat RS PKT, Pemadam Terkendala Angin Kencang

Ke depan, TPID Bontang akan memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui Gerakan Pangan Murah, optimalisasi cadangan pangan pemerintah, pemantauan harga harian di pasar, serta penguatan komunikasi publik agar masyarakat tetap tenang dan percaya terhadap ketersediaan barang.

Selain itu, strategi jangka menengah dan panjang juga disiapkan, meliputi modernisasi pertanian, penguatan peran BUMD pangan, pembangunan infrastruktur logistik, hingga digitalisasi data harga dan pasokan pangan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.