SANGATTA – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendorong pemanfaatan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), sebagai alternatif yang lebih terjangkau bagi masyarakat, di tengah fluktuasi harga pangan yang belum sepenuhnya stabil.
Kepala Bagian Perekonomian Setkab Kutim, Vita Nurhasanah, mengatakan beras SPHP merupakan bagian dari program pemerintah yang saat ini telah tersedia di Pasar Induk Sangatta (PIS) dan dapat diakses masyarakat dengan harga yang relatif stabil.
“Beras SPHP sudah dijual di pasar induk. Harganya terjangkau dan bisa dibeli oleh masyarakat,” ujar Vita.
Ia menilai, pola konsumsi masyarakat yang cenderung bergantung pada beras premium berpotensi memperberat beban rumah tangga, terutama saat harga pangan mengalami gejolak. Menurutnya, beras SPHP memiliki kualitas yang masih layak untuk kebutuhan sehari-hari.
“Tidak harus selalu beras premium atau merek tertentu. Ada pilihan lain yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” tambahnya.
Selain menawarkan beras SPHP, Disperindag Kutim juga mendorong diversifikasi pangan sebagai langkah jangka menengah untuk menjaga ketahanan pangan keluarga. Pemerintah mengajak masyarakat mulai mengonsumsi pangan lokal seperti singkong, jagung, dan sumber karbohidrat lainnya.
“Kami juga mengimbau masyarakat untuk mengonsumsi pangan alternatif yang sehat agar tidak sepenuhnya bergantung pada beras,” jelas Vita.
Menanggapi keluhan sebagian warga terkait kualitas beras SPHP, Vita mengakui adanya potensi penurunan mutu yang dipengaruhi oleh proses distribusi maupun lamanya penyimpanan. Namun, ia menegaskan beras tersebut masih berada dalam kategori layak konsumsi.
“Faktor distribusi dan penyimpanan yang terlalu lama memang bisa mempengaruhi kualitas beras,” katanya.
Disperindag Kutim berharap imbauan ini dapat menjadi langkah preventif untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan dampak fluktuasi harga pangan di daerah.
Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam




