SAMARINDA — Pergerakan harga batubara global menjelang akhir 2025 belum menunjukkan tanda pemulihan berarti. Di tengah ketidakpastian permintaan jangka panjang, harga batubara masih bertahan di bawah level USD 110 per ton dan cenderung bergerak terbatas.
Berdasarkan data Trading Economics, harga batubara tercatat berada di kisaran USD 109 per ton pada 24 Desember 2025. Angka ini memang mencatat kenaikan harian sekitar 2,93 persen, namun secara umum tren harga masih berada dalam tekanan.
Dalam sebulan terakhir, harga batubara tercatat turun sekitar 1,93 persen. Secara tahunan, koreksinya jauh lebih dalam dengan penurunan mencapai 12,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menempatkan harga batubara di dekat level terendah dalam beberapa pekan terakhir.
Tekanan harga ini sejalan dengan proyeksi melemahnya permintaan global. Dalam laporan tahunan batubara 2025, International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan batubara dunia pada 2025 masih berpeluang tumbuh tipis sekitar 0,5 persen hingga mencapai rekor 8,85 miliar ton. Namun setelah itu, laju permintaan diproyeksikan stagnan sebelum mulai menurun mendekati 2030.
IEA menilai penurunan tersebut tidak terlepas dari perubahan struktur energi global. Ekspansi energi terbarukan yang semakin agresif, peningkatan kapasitas pembangkit listrik tenaga nuklir, serta peran gas alam cair atau LNG yang terus menguat, mulai menggeser dominasi batubara sebagai sumber energi utama.
Faktor lain yang turut membayangi prospek batubara adalah arah kebijakan negara-negara konsumen utama. Tiongkok, yang selama ini menjadi konsumen, produsen, sekaligus importir batubara terbesar dunia, kembali menegaskan komitmennya untuk mencapai puncak konsumsi batubara sebelum 2030. Kebijakan ini dipandang akan memberikan tekanan tambahan terhadap permintaan global dalam jangka menengah hingga panjang.
Jika melihat ke belakang, koreksi harga saat ini kontras dengan situasi beberapa tahun lalu. Trading Economics mencatat harga batubara sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level USD 457,80 per ton pada September 2022, saat krisis energi global mendorong lonjakan permintaan dan gangguan pasokan. Namun sejak periode tersebut, harga terus mengalami penyesuaian seiring normalisasi pasar dan pergeseran kebijakan energi di berbagai negara.
Dengan kombinasi tren transisi energi dan kebijakan konsumsi yang semakin ketat, pasar batubara global diperkirakan masih akan bergerak hati-hati. Menjelang pergantian tahun, pelaku pasar pun cenderung bersikap wait and see, sambil mencermati arah permintaan dan kebijakan energi dunia ke depan. (um)
Editor: Agus S




