Stunting Masih Belasan Ribu, Kutim Dihadapkan Tantangan Serius Kualitas Generasi

SANGATTA — Angka stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih menjadi persoalan besar. Hingga akhir 2025, sekitar 11 ribu anak tercatat mengalami stunting. Capaian ini menunjukkan bahwa upaya perbaikan gizi anak belum sepenuhnya menurunkan risiko yang mengancam kualitas generasi masa depan di daerah tersebut.

Stunting bukan sekadar soal tinggi badan anak. Kondisi ini berdampak panjang pada perkembangan kecerdasan, daya tahan tubuh, hingga produktivitas ketika anak tumbuh dewasa. Karena itu, jumlah anak stunting yang masih berada di angka ribuan menjadi sinyal kuat bahwa penanganan harus dilakukan secara lebih konsisten dan menyeluruh.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menegaskan, stunting merupakan pekerjaan jangka panjang yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Pemerintah daerah, kata dia, terus menjadikan isu ini sebagai prioritas utama pembangunan sumber daya manusia.

“Stunting tidak bisa diselesaikan satu atau dua tahun. Ini pekerjaan berkelanjutan yang harus ditangani bersama, mulai dari pemenuhan gizi ibu hamil, balita, hingga perbaikan sanitasi dan pola hidup sehat masyarakat,” ujar Ardiansyah.

Baca Juga:  Pria di Samarinda Ulu Ditemukan Tewas, Polisi Selidiki Dugaan Bunuh Diri dengan Senapan Angin

Pemkab Kutim, lanjutnya, terus memperkuat layanan kesehatan dasar hingga ke tingkat desa. Optimalisasi posyandu, peningkatan peran tenaga kesehatan, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar intervensi gizi benar-benar menjangkau keluarga yang membutuhkan.

Dari sisi legislatif, DPRD Kutim mengingatkan agar angka stunting yang masih tinggi tidak dipandang sebagai hal biasa. Ketua DPRD Kutim, Jimmi, menilai penanganan stunting harus dilakukan secara terintegrasi dan tepat sasaran.

“Sebelas ribu anak ini adalah pengingat serius. Program penanganan stunting harus berkelanjutan dan benar-benar menyasar keluarga yang paling rentan,” ujarnya.

Sejumlah faktor dinilai masih menjadi penghambat penurunan stunting di Kutim. Di antaranya keterbatasan akses pangan bergizi, layanan kesehatan ibu dan anak yang belum merata, serta persoalan sanitasi lingkungan. Selain itu, edukasi keluarga terkait gizi seimbang dan pola asuh anak juga masih perlu diperkuat.

Pemerintah daerah menyatakan komitmen untuk terus memperkuat sinergi lintas sektor, mulai dari perangkat desa, tenaga kesehatan, hingga kader posyandu. Dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, intervensi penanganan stunting diharapkan mampu menjangkau seluruh wilayah Kutai Timur dan menurunkan angka stunting secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga:  Bantu Keluarga Persiapan Akikah Berakhir Tragis, Balita Tenggelam di Parit

Penulis: Ramlah
Editor: Agus S

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.