Dari Gang Sempit di Sangatta, Agus Prawoto Sulap Sampah Organik Jadi Sumber Ekonomi

SANGATTA — Di tengah persoalan sampah perkotaan yang kian kompleks, solusi justru tumbuh dari lorong sempit di jantung Kota Sangatta. Di Gang Batri, tepat di seberang kawasan Polder Ilham Maulana, Sangatta Utara, Agus Prawoto membangun sistem pengelolaan sampah organik yang bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga bernilai ekonomi.

Tanpa latar proyek pemerintah, Agus mengembangkan peternakan ayam kampung terintegrasi dengan pengolahan limbah organik. Berbekal kandang seluas 12×30 meter di kawasan permukiman, sisa makanan dari restoran hingga mess karyawan perusahaan tambang diolah menjadi maggot Black Soldier Fly (BSF), pakan berprotein tinggi yang menopang usaha peternakannya.

Skema ini menghadirkan dua manfaat sekaligus. Di satu sisi, sampah organik yang berpotensi mencemari lingkungan dapat ditekan secara signifikan. Di sisi lain, maggot BSF menjadi sumber pakan efisien yang menghasilkan ayam kampung sehat dan bernilai jual tinggi.

Yang menarik, inovasi berbasis ekonomi sirkular dan ketahanan pangan ini tumbuh tanpa sentuhan pemerintah daerah. Seluruh infrastruktur utama, mulai dari kandang hingga sistem pengolahan limbah, berdiri melalui dukungan sektor swasta lewat program tanggung jawab sosial perusahaan.

Baca Juga:  Modus Skip Scan Kurir Terbongkar, iPhone 17 Pro Max Raib, Perusahaan Rugi Rp98,9 Juta

Agus menyebut, bantuan fasilitas sepenuhnya berasal dari PT Kaltim Prima Coal, sementara pasokan utama sampah organik diperoleh dari PT Pama Persada.

“Kandang 12×30 meter dan operasional pengolahan limbah ini semuanya bantuan perusahaan. Sampahnya kami kelola dari Pama Persada. Sampai sekarang memang belum ada keterlibatan atau bantuan dari pemerintah daerah,” ujar Agus Prawoto saat ditemui, Selasa (6/1/2026).

Pernyataan tersebut memperlihatkan kontras antara wacana kebijakan dan praktik nyata di lapangan. Saat isu pengelolaan sampah, ekonomi hijau, dan ketahanan pangan kerap disuarakan, implementasi justru dijalankan oleh warga dengan sokongan dunia usaha.

Bagi Agus, “emas” yang dimaksud bukan semata hasil penjualan ayam kampung. Nilai terbesar terletak pada kepuasan mampu menghadirkan solusi lingkungan yang berkelanjutan dan berdampak langsung bagi Kota Sangatta.

Tanpa seremoni dan minim sorotan, aktivitas di kandang Gang Batri terus berlangsung setiap hari. Limbah diolah, maggot dipanen, ayam dibesarkan, dan beban sampah kota perlahan berkurang. Sebuah bukti bahwa inovasi sering kali telah hadir di tengah masyarakat, bahkan sebelum kebijakan menyentuhnya.

Baca Juga:  Persib Datang Rileks ke Segiri, Bojan Hodak Sebut Borneo FC Tertekan

Penulis: Ramlah
Editor: Agus S

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.