BONTANG — Suasana duka menyelimuti kawasan Bontang Kuala sejak Selasa (20/1) pagi. Warga silih berganti memadati rumah duka H. Abdul Ghalib, tokoh kuliner lokal yang dikenal sebagai pengelola Rumah Makan Anjungan Indah, yang meninggal dunia Senin malam (19/1) malam.
Jenazah almarhum disemayamkan di kediamannya yang juga sekaligus menjadi Rumah Makan Anjungan Indah, salah satu ikon kuliner pesisir Bontang Kuala.
Dari pantauan media ini, sejak pukul 07.30 Wita, warga sudah mulai berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.
Sejumlah warga tampak bergotong royong membantu persiapan rumah duka. Kaum perempuan menyiapkan bunga dan keperluan pelayat, sementara kaum laki-laki mengatur persiapan pemakaman.
Kehadiran masyarakat datang dari berbagai kalangan, mulai dari warga sekitar, tokoh masyarakat Bontang Kuala, pelaku usaha kuliner, hingga karyawan Rumah Makan Anjungan Indah.
Pihak keluarga menyampaikan bahwa pemakaman almarhum direncanakan dilaksanakan Selasa (20/1) hari ini di Pemakaman Muslim Bontang Kuala.
Prosesi pemakaman diperkirakan akan dihadiri keluarga besar, kerabat, serta masyarakat yang selama ini mengenal dan menghormati almarhum.
Kepergian H. Abdul Ghalib mengejutkan banyak pihak. Menurut keterangan warga setempat, almarhum dikenal aktif dan masih menjalani aktivitas seperti biasa sebelum wafat.
Bahkan, sehari sebelum meninggal dunia, ia disebut masih sempat berangkat ke masjid. Warga juga menyebutkan bahwa almarhum tidak diketahui memiliki riwayat penyakit jantung.
Selain warga, sejak pagi hari sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat juga dikabarkan mulai berdatangan ke rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga.
Semasa hidupnya, H. Abdul Ghalib dikenal sebagai sosok yang sederhana, bersahaja, dan konsisten menjaga cita rasa kuliner khas Bontang. Melalui Rumah Makan Anjungan Indah, ia berperan penting mempopulerkan Gami Bawis, olahan ikan bawis dengan sambal khas pesisir, hingga dikenal luas sebagai salah satu identitas kuliner Kota Bontang.
Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga besar, tetapi juga bagi masyarakat Bontang Kuala dan dunia kuliner lokal yang kehilangan salah satu tokoh perintisnya.
Pewarta: Darman
Editor: Yusva Alam




