BONTANG — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menegaskan kesiapan daerah sebagai mitra strategis nasional dalam pengembangan wilayah pangan baru dan industri pangan, sekaligus mendukung kebutuhan Ibu Kota Nusantara (IKN) serta kemandirian pangan Indonesia.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud saat meresmikan Proyek Revamping Pabrik Amoniak Kaltim 2 PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) di Bontang, Kamis (29/1/2026).
Gubernur Rudy Mas’ud menyatakan, Kalimantan Timur tidak lagi hanya diposisikan sebagai daerah penghasil energi fosil, tetapi mulai diarahkan menjadi pusat pengembangan dan pengolahan pangan nasional.
“Kami ingin menegaskan Kalimantan Timur siap menjadi mitra strategis dalam pengembangan wilayah pangan baru dan industri pangan,” ujar Rudy.
Menurutnya, ke depan Kaltim tidak hanya berperan sebagai daerah penghasil bahan mentah, tetapi juga sebagai daerah pengolah yang menciptakan nilai tambah dan berkontribusi langsung terhadap ketahanan pangan nasional.
Langkah tersebut, kata Rudy, sejalan dengan arah pembangunan nasional serta pengembangan Ibu Kota Nusantara yang baru saja dikunjungi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
“Tentu sejalan dengan pengembangan Ibu Kota Nusantara yang baru saja dikunjungi Bapak Presiden Prabowo Subianto, pekan lalu,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Rudy Mas’ud mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah menetapkan target cetak sawah baru seluas 20.000 hektare sepanjang tahun anggaran 2026. Kebijakan ini diambil untuk memastikan transisi ekonomi dari sektor pertambangan menuju sektor pertanian berkelanjutan berjalan sesuai perencanaan.
“Bukan sekadar menanam, strategi Kaltim tahun ini mencakup ekstensifikasi lahan modern. Dari target 20.000 hektare tersebut, sekitar 9.500 hektare lahan prioritas telah diidentifikasi untuk segera diolah menggunakan teknologi pertanian presisi atau smart farming,” jelas Rudy.
Selain perluasan lahan pertanian, Pemprov Kaltim juga mendorong hilirisasi industri pangan, khususnya di Kabupaten Kutai Kartanegara. Sejumlah proyek pengolahan, seperti pabrik pengolahan rumput laut dan pabrik minyak makan, terus dikembangkan agar petani tidak hanya menjual gabah atau hasil mentah, tetapi mampu menghasilkan produk olahan bernilai tambah.
“Kami ingin Kaltim berdiri tegak di atas kakinya sendiri secara pangan. Kehadiran IKN memaksa kita untuk tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar daerah,” tegasnya.
Transformasi sektor pangan tersebut diproyeksikan membuka lapangan kerja baru, terutama di sektor agribisnis dan industri pengolahan. Sebagai wilayah penyangga ekonomi kawasan Indonesia Timur, Kalimantan Timur juga diharapkan berperan dalam menjaga stabilitas harga pangan regional.
Dalam rangka mendukung produktivitas pertanian, Pemprov Kaltim turut menaruh perhatian pada distribusi pupuk. Gubernur Rudy Mas’ud menilai stabilitas pasokan pupuk menjadi faktor kunci peningkatan hasil pertanian.
“Kita yakin distribusi pupuk yang stabil akan mengangkat produktivitas, efisiensi terjaga, petani tersenyum, industri tumbuh, dan negara semakin kuat,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa swasembada pangan dan hilirisasi produk pangan merupakan gagasan besar Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.
“Kita harus merevitalisasi industri pupuk kita, termasuk Bulog. Sehingga, insyaallah Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia,” kata Amran.
Ia menyebutkan, revamping pabrik pupuk menghasilkan efisiensi hingga 16 persen atau setara penghematan biaya sekitar Rp200 miliar per tahun, sekaligus menurunkan emisi hingga 110.000 ton CO₂ ekuivalen.
“Hari ini kita capai swasembada pangan. Itu berkat hasil revitalisasi industri pupuk,” pungkasnya. (MK)
Editor: Agus S




