BONTANG — Pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kota Bontang pada tahun ini hanya dapat digelar sebanyak empat kali, lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang intensitasnya bisa dua bulan sekali.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKP3 Kota Bontang, Debora Kristiani, menjelaskan bahwa terdapat keterbatasan anggaran. Untuk itu, tahun ini GPM difokuskan pada momentum tertentu, yakni Ramadan, HUT Kota Bontang, Hari Pangan Sedunia, dan Natal.
“Dulu itu bisa berkali-kali. Tahun ini karena eksekusi anggaran,” ujar Debora, Kamis (6/2/2026).
Ia menyebutkan, alokasi bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk pelaksanaan GPM tahun ini relatif terbatas, terutama untuk biaya transportasi. “Dari Pemprov itu tidak sampai puluhan juta untuk transport. Paling Rp50–60 juta termasuk konsumsi,” jelasnya.
Tahun lalu Pemkot Bontang mendapat dukungan anggaran sekitar Rp200 juta untuk subsidi transport pangan.
Meski demikian, Debora mengaku telah berkoordinasi dengan Kepala BPKAD Bontang, ia berharap ada penambahan anggaran pada APBD perubahan 2026. Menurutnya, GPM sangat penting untuk menstabilkan harga pangan, terutama beras.
“Saya sudah sampaikan, ini mendesak karena berpengaruh ke harga. Potensi harga beras ini kan tidak pernah turun signifikan,” katanya.
Selain beras, Debora juga menyoroti kenaikan harga cabai yang cukup signifikan. “Bulan lalu saya beli cabai Rp34 ribu per kilo, sekarang sudah sekitar Rp40 ribu. Biasanya memang menjelang hari raya permintaan naik, otomatis harga ikut naik,” tutupnya.
Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam




