Makin Pedas, Dalam Tiga Hari Harga Cabai Naik Rp30 Ribu

SANGATTA – Harga cabai di Pasar Induk Sangatta (PIS) kian “pedas”. Dalam tiga hari terakhir, komoditas yang jadi kebutuhan utama dapur itu mengalami lonjakan tajam hingga Rp30 ribu per kilogram. Kondisi tersebut membuat pedagang kelimpungan karena pasokan sulit, sementara pembeli justru makin sepi.

Arif, salah satu pedagang di pasar, mengungkapkan bahwa kenaikan paling terasa terjadi pada cabai lokal. Sebelumnya, harga cabai masih berada di kisaran Rp45 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram. Namun kini melonjak menjadi Rp70 ribu sampai Rp75 ribu per kilogram.

“Tiga hari lalu masih kepala 45 sampai 55 ribu per kilo. Sekarang sudah 70 sampai 75 ribu,” ujar Arif saat ditemui di lapak dagangannya, Jumat (6/2/2026).

Menurutnya, kondisi cuaca buruk ditambah banjir yang terjadi di sejumlah wilayah menjadi pemicu utama kenaikan harga. Distribusi tersendat, stok berkurang, sementara permintaan tetap ada.

“Ini posisi banjir. Jadi barang juga susah,” katanya.

Tak hanya cabai lokal, cabai kiriman dari luar daerah seperti Surabaya dan Sulawesi juga berada di kisaran Rp70 ribuan per kilogram. Kondisi itu membuat pedagang harus memutar otak untuk menjaga stok tetap tersedia.

Baca Juga:  Panggung Kreasi Rasa: 17 Kecamatan Adu Hebat Olah Ikan di Lomba Masak PKK Kutim

Arif menyebut, dalam sehari ia biasanya menyiapkan sekitar 10 kilogram cabai. Namun penjualan tak selalu habis karena kondisi pasar yang tidak seramai biasanya.

“Ngabisin paling 10 kilo. Kadang habis kadang enggak, tergantung pasarnya,” jelasnya.

Di sisi lain, daya beli masyarakat juga mulai menurun. Arif mengaku pengunjung pasar belakangan ini cenderung sepi, sehingga pedagang semakin kesulitan menutupi modal yang terus naik.

“Barang susah, harga naik, jualnya juga susah. Apalagi pengunjung enggak seberapa,” keluhnya.

Ia juga memprediksi harga kebutuhan pokok, terutama cabai, berpotensi kembali naik menjelang Ramadan. Menurutnya, setiap tahun tren kenaikan harga menjelang puasa hampir selalu terjadi.

“Biasanya kalau mendekati puasa itu naik. Tapi tergantung stok. Kalau stok banyak ya enggak naik, kalau stok terbatas ya otomatis naik,” bebernya.

Selain cabai, beberapa komoditas sayuran juga sempat mengalami kenaikan. Bayam dan kangkung yang biasanya dijual Rp5 ribu per ikat, kini sempat merangkak hingga Rp12 ribu sampai Rp13 ribu.

“Bayam, kangkung itu sempat 12 sampai 13 ribu. Biasanya cuma 5 ribu,” ujarnya.

Baca Juga:  Puluhan Ojol Datangi PN Jakpus, Suarakan Dukungan untuk Nadiem di Sidang Chromebook

Arif berharap pemerintah tidak hanya turun melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memantau harga, tetapi juga memperhatikan akar persoalan di lapangan, terutama soal distribusi dan pasokan.

Ia menilai, pedagang kecil sering kali berada di posisi serba sulit. Ketika harga naik, mereka dituding mencari untung besar. Padahal, kenaikan terjadi karena pasokan yang seret.

“Kalau barang susah dicari begini, ya harga otomatis naik. Jadi jangan cuma tanya kenapa mahal, tapi harus dibantu juga solusinya,” pungkasnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.