Dinkes Kutim Soroti Truk Semen Hilir Mudik di Sekerat, Berpotensi ISPA hingga Stunting

SANGATTA – Aktivitas truk pengangkut material milik perusahaan semen yang lalu lalang di kawasan permukiman warga Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim), mulai menuai sorotan. Selain berisiko menimbulkan kecelakaan lalu lintas, debu yang ditimbulkan dari kendaraan berat itu dikhawatirkan berdampak pada kesehatan masyarakat.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim menilai paparan debu berlebihan dapat memicu peningkatan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Bahkan, dalam jangka panjang bisa berkorelasi dengan persoalan stunting pada anak.

Kepala Dinkes Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan secara medis debu yang beterbangan di lingkungan permukiman tentu berbahaya karena mudah terhirup warga.

“Tentu saja kalau secara medis namanya debu, itu jelas akan terhirup sehingga mengganggu saluran pernapasan termasuk ISPA. Kasus ISPA kemungkinan bisa meningkat ya. Cuma saya belum melihat datanya, nanti kita akan cek,” ujarnya Yuwana kepada awak media.

Yuwana menegaskan, secara teori peningkatan polusi debu di lingkungan tempat tinggal pasti berpengaruh terhadap kesehatan warga. Karena itu, pihaknya akan melakukan pengecekan terhadap data ISPA terbaru di Bengalon untuk melihat apakah terdapat tren kenaikan kasus.

Baca Juga:  Respons Kilat Polres Kutim atas Penemuan Jenazah di Mess Tukang SMKN 2 Sangatta Utara

Tak hanya ISPA, persoalan stunting juga ikut menjadi perhatian. Yuwana menjelaskan bahwa bayi dan balita yang sering mengalami infeksi saluran pernapasan berulang dapat mengalami gangguan pertumbuhan.

“Kalau yang bayi-bayi ini tentu akan mempengaruhi. Dengan adanya infeksi saluran napas atas pada bayi dan balita tadi, ini kan pengaruh juga ke stunting, ke pertumbuhan tadi. Ada korelasinya,” jelasnya.

Meski demikian, Dinkes Kutim belum dapat memastikan sejauh mana dampak aktivitas truk tersebut terhadap angka ISPA maupun stunting di Desa Sekerat, lantaran data spesifik wilayah itu belum diperiksa.

“Kita angkanya belum kita lihat ya. Khusus Sekerat kita belum lihat datanya,” tambahnya.

Ke depan, Dinkes Kutim berencana meninjau ulang data kesehatan lingkungan di wilayah terdampak. Mulai dari perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), kondisi sanitasi, hingga faktor lain yang berpotensi memperparah risiko stunting maupun ISPA akibat aktivitas industri.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.