NUSANTARA – Kawasan peribadatan di Ibu Kota Nusantara (IKN) bakal kembali bertambah. Setelah masjid dan gereja Katolik berdiri di kawasan KIPP, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Kementerian Agama kini menjajaki pembangunan gereja baru di area yang sama.
Deputi Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, mengungkapkan bahwa pihak Dirjen Bimas Kristen telah melakukan koordinasi dengan Otorita IKN terkait rencana tersebut. Bahkan, desain awal bangunan disebut telah disiapkan.

“Mereka sudah punya gambar dan lain-lain. Tinggal bagaimana nanti mereka menyampaikan kebutuhan akan lahan gereja tersebut. Itu updatenya,” ujar Alimuddin di Masjid Negara IKN, Kamis (20/2/2026).
Ia menambahkan, Otorita IKN pada prinsipnya menunggu pengajuan resmi kebutuhan lahan untuk selanjutnya diproses sesuai ketentuan tata ruang kawasan peribadatan.
Sementara itu, untuk pengelolaan masjid di kawasan tersebut, Alimuddin menyebut ke depan kemungkinan akan dibentuk badan khusus agar fungsi masjid tidak hanya sebatas tempat ibadah.

“Kalau nanti ini pasti akan menjadi milik negara, artinya akan dikelola oleh sebuah badan. Tetapi yang terpenting adalah fungsi masjid itu tidak hanya untuk sembahyang, tapi juga untuk pendidikan, kegiatan kemasyarakatan, dan pemberdayaan,” jelasnya.
Di sisi lain, pembangunan Gereja Katolik Basilika Nusantara Santo Fransiskus Xaverius belum sepenuhnya rampung. Saat ini masih dalam tahap penyelesaian interior dan finishing.
“Menunggu finishingnya sejauh mana, sehingga kita bisa lihat kapan bisa dimanfaatkan,” sebut Alimuddin.
Sebelumnya, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i juga telah meninjau lokasi pembangunan basilika tersebut pada 12 Februari lalu. Pemerintah menargetkan gereja dan rumah uskup dapat dioperasikan pada Mei mendatang untuk menyambut agenda Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di IKN.
Dengan penambahan rumah ibadah lintas agama, kawasan peribadatan di IKN diharapkan menjadi simbol toleransi dan keberagaman yang tumbuh seiring pembangunan ibu kota baru. (MK)
Editor: Agus S




