Kepergian Maming, dari Tambang ke Parlemen

Minggu (5/4) subuh hari ini, saya baru membuka ponsel. Kabar itu sudah ada sejak malam tadi. Berita duka wafatnya Maming, Wakil Ketua II DPRD Bontang. Saya tertinggal informasi ini karena semalam tidur lebih cepat dari biasanya dan tidak melihat laporan wartawan di grup redaksi Mediakaltim.com. Padahal, berita tersebut sudah tayang di kanal Media Kaltim dan Radar Bontang.

Saya belum bisa langsung datang melayat pagi ini karena masih berada di Kota Malang, Jawa Timur. Namun ingatan saya langsung ke Bontang. Teringat interaksi yang pernah saya lakukan bersama almarhum.

Terakhir saya bertemu almarhum pada 25 Agustus 2025. Saat itu, rapat paripurna DPRD berlangsung di Gedung 3 Dimensi. Kondisinya terlihat sehat. Kami sempat berdiskusi ringan tentang banyak hal, mulai dari dinamika politik hingga kondisi daerah. Tidak ada tanda bahwa itu akan menjadi pertemuan terakhir.

Saya mengenal Maming jauh sebelum ia terjun ke dunia politik, saat masih bekerja di PT Indominco Mandiri. Ia memulai dari bawah, dari petugas keamanan, lalu naik menjadi kepala keamanan hingga akhirnya dipercaya di bagian eksternal sebagai Head of External Relations, yang banyak berhubungan langsung dengan masyarakat, pemerintah, hingga media. Semua dijalani bertahap.

Baca Juga:  Belajar dari Lirboyo: Saat Adab Tak Lagi Dihargai di Layar

Setelah keluar dari dunia tambang, ia masuk ke politik melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Dari situ, ia membangun posisi hingga dipercaya memimpin PDIP Bontang, dan kemudian terpilih menjadi anggota DPRD.

Dalam banyak kesempatan, ia lebih sering berbicara soal penguatan SDM, pendidikan, dan tenaga kerja. Itu sejalan dengan latar belakangnya yang memulai dari bawah.

Almarhum lahir pada 8 Januari 1967 di Bone, Sulawesi Selatan, dan meninggal dunia dalam usia 59 tahun. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak banyak membuka kehidupan pribadinya ke publik.

Beberapa tahun lalu, saya sempat mendengar kondisinya menurun karena masalah kesehatan. Namun ia kembali bangkit, kembali aktif, dan tetap bekerja. Itu yang saya lihat terakhir—masih kuat dan tetap menjalankan perannya.

Sabtu malam, kabar itu datang. Almarhum meninggal dunia sekitar pukul 22.15 Wita di RSUD Taman Husada. Ia memiliki riwayat penyakit jantung yang sudah lama diderita. Sempat dilakukan dua kali tindakan resusitasi, namun tidak tertolong.

Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, membenarkan hal tersebut.
“Iya benar,” ujarnya singkat.

Baca Juga:  41 Tahun Andi Faizal

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Bontang, Siti Yara, menyebut almarhum memiliki riwayat penyakit jantung.
“Saya juga baru saja mendapatkan kabar. Meninggalnya karena sakit jantung. Sudah sempat pemasangan ring di jantungnya,” ujarnya.

Sejak malam hingga dini hari, rumah duka di Tanjung Laut dipadati pelayat. Rekan-rekan anggota DPRD, pejabat daerah, hingga masyarakat datang memberikan penghormatan terakhir.

Saya memahami satu hal. Maming tidak banyak membuka kehidupan pribadinya ke publik. Saya lebih mengenalnya dari kerja dan perannya sebagai wakil rakyat.

Yang ditinggalkan adalah perjalanan hidupnya. Dari dunia tambang, memulai dari bawah, hingga duduk di kursi pimpinan DPRD Bontang. Semua dijalani bertahap.

Kepergiannya tentu menjadi kehilangan, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi DPRD Bontang, PDIP, dan rekan-rekan yang pernah bekerja bersamanya.

Bagi saya pribadi, ini kehilangan sosok yang saya kenal cukup lama. Tidak selalu dekat, tetapi saya tahu bagaimana ia bekerja dan menjalani prosesnya.

Selamat jalan, Pak Maming.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Baca Juga:  Perang Iran dan Pertaruhan Energi Dunia
Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.