BONTANG – Wali Kota Neni Moerniaeni menyoroti masih tingginya kasus stunting di sejumlah wilayah di Kota Bontang, meski daerah tersebut dikelilingi perusahaan besar.
Dalam rapat paripurna DPRD Bontang terkait rekomendasi terhadap LKPJ Wali Kota Tahun 2025, Neni menyebut kondisi itu sebagai sesuatu yang ironis bagi kota industri seperti Bontang.
“Saya ironis banget, di kota industri masih ada stunting,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Ia menyebut wilayah dengan angka stunting tertinggi berada di Bontang Lestari dengan 124 balita stunting atau sekitar 22,71 persen. Neni meminta lurah bersama perusahaan di sekitar wilayah tersebut ikut terlibat aktif melakukan intervensi.
Menurutnya, keberadaan perusahaan besar seperti PAMA dan Indominco di kawasan Bontang Lestari, seharusnya dapat membantu percepatan penanganan stunting.
Selain Bontang Lestari, Neni juga menyoroti Kelurahan Guntung yang masih memiliki 83 balita stunting. Ia meminta pemerintah kelurahan memanfaatkan keberadaan perusahaan besar di sekitar kawasan tersebut, untuk mendukung program penanganan stunting.
“Guntung ini kan tinggal 83 anak saja. Masa enggak bisa selesai?” katanya.
Tak hanya itu, wilayah Tanjung Laut Indah tercatat memiliki 146 balita stunting, sedangkan Tanjung Laut mencapai 147 balita. Sementara sejumlah wilayah lain dengan kasus di atas 100 balita antara lain Api-Api, Gunung Elai, Loktuan, dan Bontang Kuala.
Neni meminta seluruh camat dan lurah melakukan koordinasi intensif dengan Dinas Kesehatan serta perusahaan, agar intervensi terhadap balita stunting bisa berjalan maksimal.
Ia juga menekankan program pemberian makanan tambahan melalui Gerakan Masyarakat Melawan Stunting harus terus diperkuat. Dalam program itu, balita stunting mendapatkan bantuan makanan senilai Rp25 ribu per hari selama 56 hari intervensi.
Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam




