BONTANG – Kenaikan harga tiket pesawat dalam beberapa waktu terakhir mulai memberikan dampak signifikan terhadap beberapa agen perjalanan. Salah satunya agen usaha travel yang mengaku penjualan tiket mengalami penurunan, terutama untuk rute-rute domestik yang selama ini menjadi tujuan masyarakat.
Bayu, salah satu Perwakilan Asosiasi Travel Agent menyebutkan kondisi tersebut tidak hanya mempengaruhi bisnis agen perjalanan mereka, tetapi juga berdampak pada berbagai sektor pariwisata, perhotelan, hingga pelaku usaha UMKM di Bontang yang bergantung pada mobilitas wisatawan.
Menurut mereka, kenaikan tarif penerbangan membuat masyarakat kini lebih selektif dalam merencanakan perjalanan. Banyak pelanggan memilih menunda keberangkatan, mengurangi frekuensi bepergian, bahkan beralih menggunakan transportasi darat untuk tujuan tertentu.
“Dampaknya sangat terasa bagi kami sebagai agen perjalanan. Pemesanan tiket menurun dibandingkan periode sebelumnya, karena masyarakat mempertimbangkan ulang biaya perjalanan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (23/5/2026).
Penurunan pemesanan paling banyak terjadi pada perjalanan wisata dan perjalanan keluarga. Sementara perjalanan dinas dan kebutuhan mendesak dinilai masih tetap berjalan, meski jumlahnya tidak sebesar sebelumnya.
Rute-rute menuju kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Makassar disebut menjadi yang paling terdampak akibat tingginya harga tiket. Selain itu, daerah dengan konektivitas penerbangan terbatas juga mengalami penurunan jumlah penumpang.
Sehingga Bayu menilai respons pelanggan saat ini cenderung mengeluh dan membandingkan, harga tiket dengan kondisi beberapa tahun lalu. Banyak pelanggan mempertanyakan lonjakan tarif yang dianggap terlalu tinggi, terutama saat musim liburan atau akhir pekan.
“Sebagian pelanggan mengaku harus mengurangi anggaran perjalanan mereka. Bahkan beberapa waktu lalu, ada yang membatalkan rencana liburan ke Bontang karena harga tiket dinilai tidak lagi terjangkau,” tambahnya.
Kondisi ini dinilai berpotensi sangat mempengaruhi bagi sektor wisata secara keseluruhan. Jika mobilitas masyarakat menurun, maka tingkat kunjungan wisata juga ikut terdampak. Pelaku usaha hotel, restoran, hingga destinasi wisata diperkirakan turut merasakan penurunan jumlah pengunjung.
Untuk menjaga minat masyarakat bepergian, agen travel mulai menerapkan berbagai strategi, seperti menawarkan promo bundling tiket dan hotel, sistem cicilan pembayaran, hingga paket wisata dengan harga ekonomis.
“Kami berusaha menyesuaikan kebutuhan pasar. Sekarang pelanggan lebih sensitif terhadap harga, jadi agen perjalanan juga harus kreatif memberikan pilihan,” jelasnya.
Asosiasi travel berharap pemerintah dan maskapai penerbangan dapat mencari solusi agar harga tiket lebih stabil dan terjangkau. Mereka menilai keberlanjutan industri perjalanan sangat bergantung pada kemampuan masyarakat, untuk tetap melakukan mobilitas.
“Kalau kondisi ini berlangsung cukup lama, tentu dampaknya akan semakin luas. Bukan hanya kami di bagian agen travel saja, tetapi seluruh sektor pendukung pariwisata juga bisa terdampak,” pungkasnya.
Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam




