Ancaman Buaya, Cermin Rusaknya Tata Kelola Alam

Oleh:
Hanifah Tarisa Budiyanti S. Ag

Belakangan ini masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan Timur dibuat resah oleh meningkatnya kemunculan buaya di sekitar pemukiman. Hewan predator yang sejatinya hidup di habitat alami tersebut kini kerap muncul di sungai, pesisir, bahkan kawasan yang dekat dengan aktivitas manusia.

Fenomena ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran, melainkan juga telah memakan korban jiwa.

Seperti halnya yang terjadi di wilayah Kota Bontang. Dilaporkan, sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 25 kasus kemunculan buaya di sejumlah wilayah. Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyatakan bahwa tingginya angka kemunculan buaya tersebut menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret.

Perhatian terhadap persoalan ini semakin menguat, setelah insiden penyerangan terhadap seorang anak berusia 12 tahun yang sedang berenang di perairan rawa-rawa, Kelurahan Loktuan beberapa waktu lalu.

Meski upaya sosialisasi dan penangkapan telah beberapa kali dilakukan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang masih menghadapi beberapa kendala, terutama terkait regulasi serta keterbatasan peralatan medis hewan untuk penanganan satwa liar.

Pemkot Bontang pun berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Samarinda, untuk mempercepat proses evakuasi buaya yang dinilai meresahkan masyarakat.

Berulangnya kemunculan buaya hingga menimbulkan korban tentu tidak bisa dilihat sebagai peristiwa biasa semata. Di balik kejadian tersebut, terdapat persoalan yang lebih mendasar terkait hubungan manusia dengan alam serta bagaimana tata kelola lingkungan di jalankan.

Apalagi Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Bontang, Alimuddin, menyatakan satu induk buaya mampu menghasilkan puluhan telur dalam sekali masa berkembang biak. Tentu hal ini semakin membuat takut warga terhadap populasi buaya yang semakin banyak.

Baca Juga:  Persulit Investor Asing, Jangan Dipermudah!

Lantas ada apa dibalik keberadaan buaya di pemukiman warga? Apa kaitannya dengan tata kelola lingkungan?

Cermin Rusaknya Tata Kelola Alam

Adanya buaya yang semakin sering nampak di wilayah pemukiman sesungguhnya bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Secara ekologis, buaya adalah predator puncak yang hidup di ekosistem sungai, rawa, dan kawasan pesisir. Dalam kondisi habitat yang seimbang, buaya biasanya menghindari interaksi dengan manusia.

Namun, jika habitatnya alaminya terganggu—seperti akibat kerusakan hutan mangrove, pencemaran sungai, atau aktivitas manusia yang semakin mendekati wilayah perairan—maka ruang hidup predator ini semakin sempit. Alhasil, hal tersebut bisa memicu perubahan perilaku buaya sehingga lebih sering muncul di wilayah sekitar aktivitas manusia.

Selain faktor kerusakan habitat, konflik manusia dengan buaya juga dapat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan di alam.

Pada umumnya buaya memangsa ikan, burung air, atau hewan lain yang berada di sekitar perairan. Namun, ketika keseimbangan ekosistem terganggu dan sumber makanan asli berkurang, buaya dapat mencari mangsa yang lebih mudah dijangkau.

Pada kondisi tertentu, manusia yang beraktivitas di sungai atau pesisir bisa saja dianggap sebagai mangsa. Hal ini memperlihatkan bahwa konflik antara manusia dan hewan liar sesungguhnya berakar pada terganggunya keseimbangan ekosistem.

Dengan berbagai realitas di atas, hal ini mestinya menjadi alarm keras bagi penguasa untuk menjaga nyawa rakyatnya. Ketika kemunculan buaya semakin meningkat, yang harusnya diselesaikan bukan hanya mitigasi pada korban atau memindahkan buaya.

Baca Juga:  Kerja Serius, Upah Bercanda

Namun, diperlukan langkah yang menyelesaikan akar masalah seperti menjaga ekosistem alam, edukasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah pesisir, dan menjaga wilayah yang rawan predator dari pemukiman warga.

Pemerintah tidak boleh membiarkan rakyatnya menyelesaikan persoalannya sendirian dengan bergantung pada pawang buaya atau cara-cara yang tidak berbasis pada ilmu pengetahuan seperti praktik mistis dan sebagainya yang justru tidak menyelesaikan akar masalah.

Namun sayang, di sistem demokrasi kapitalisme ini kebanyakan pemimpinnya tidak memiliki visi riayah (mengurusi) rakyatnya. Kekuasaan bukan untuk melaksanakan amanah namun hanya memperkaya diri dan kroni-kroninya.

Oleh karena itu, kita butuh meninjau solusi lain dalam hal ini solusi Islam yang mampu menyelesaikan permasalahan kehidupan dan telah memiliki track record dalam melahirkan pemimpin-pemimpin bervisi riayah dan bertakwa.

Islam Menyelamatkan Nyawa

Dalam perspektif Islam, manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi yang berperan menjaga keseimbangan alam. Allah Taala berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (TQS Ar-Rum: 41). Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan lingkungan sejatinya adalah ulah tangan manusia itu sendiri. Ketika manusia tidak mengindahkan aturan Allah dalam menjaga alam, maka keseimbangan ekosistem pun terganggu. Pengaruhnya tentu dirasakan oleh manusia serta makhluk hidup lain, termasuk hewan liar seperti buaya.

Baca Juga:  Sukseskan Kurikulum Merdeka, PKT Sinergi dengan SMAN 3 Bontang

Dalam Islam, pengelolaan alam dilaksanakan dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin, yakni melahirkan kemasalahatan bagi seluruh makhluk. Tata kelola alam dalam perspektif Islam tentunya dilandasi pada prinsip syariat yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan manusia semata, melainkan juga menjaga keberlanjutan kehidupan seluruh makhluk.

Sejarah peradaban Islam juga memperlihatkan bagaimana kepemimpinan yang adil mampu melahirkan keseimbangan kehidupan hingga dirasakan oleh alam dan hewan.

Seperti pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, seorang penggembala di daerah Karman menyatakan bahwa serigala tidak lagi menerkam domba-domba yang digembalakannya. Hewan buas tersebut hidup berdampingan dengan damai bersama ternak.

Fenomena ini dilihat masyarakat sebagai tanda keadilan pemimpin yang berefek pada ketentraman hidup. Bahkan dalam sebuah ungkapan yang dinukil dalam riwayat disebutkan, “jika serigala tidak mengonggong (menyerang), maka itu pertanda pemimpinnya adil .“ kisah ini menggambarkan pada kita bahwa ketika aturan Islam ditegakkan maka keamanan dan keadilan akan mewarnai kehidupan kita. Alam pun juga menjadi seimbang.
Dengan demikian, Islam adalah agama sekaligus ideologi yang juga mengatur hubungan manusia dengan alam.

Penerapan sistem Islam secara kaffah (menyeluruh) akan menghadirkan tata kelola lingkungan yang adil, menjaga keseimbangan alam, serta melindungi kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Inilah makna Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Allah Taala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu…,” (TQS Al-Anfal: 24).

Wallahu ‘alam bis shawab.

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.