BPBD Bontang Sosialisasi Penanggulangan Bencana ke Masyarakat

BONTANG — Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menghadiri kegiatan sosialisasi penanggulangan bencana yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang di Auditorium 3D, Kamis (11/12).

Agus Haris dalam kesempatan tersebut mengapresiasi upaya BPBD dalam memberikan edukasi kesiapsiagaan kepada masyarakat. Ia menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, relawan, dan warga agar risiko bencana bisa ditekan secara maksimal.
“Pemkot Bontang berkomitmen memperkuat upaya mitigasi dan penanganan bencana. Sosialisasi seperti ini sangat penting agar masyarakat memahami potensi bahaya di lingkungannya masing-masing dan dapat melakukan langkah antisipasi sejak dini,” ujar Agus Haris.

Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, BPBD mendorong rehabilitasi lingkungan, termasuk penambahan area resapan air dan pengawasan ketat terhadap aktivitas yang merusak lingkungan. Edukasi kesiapsiagaan juga akan terus dilakukan untuk memastikan masyarakat di daerah rawan dapat merespons dengan cepat saat terjadi bencana.

Sementara Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Eko Mashudi dalam laporannya menyampaikan bahwa sebanyak tujuh kelurahan di Kota Bontang masuk daftar wilayah dengan risiko rawan bencana tanah longsor. Ketujuh wilayah tersebut ditetapkan berdasarkan kajian manajemen risiko yang dilakukan BPBD.
“Kelurahan Belimbing, Gunung Telihan, dan Kanaan di Kecamatan Bontang Barat masuk dalam kategori rawan longsor. Untuk wilayah Bontang Utara ada Kelurahan Gunung Elai dan Loktuan. Sementara di Bontang Selatan, kawasan Tanjung Laut dan Berebas Tengah juga termasuk rawan,” jelasnya.

Baca Juga:  Inovasi Polres Kutim, Aplikasi “Infolantas” Bikin Urusan Lalu Lintas Semakin Praktis

Eko menjelaskan, beberapa faktor memicu meningkatnya ancaman longsor, terutama di Kelurahan Gunung Telihan dan Kanaan. Minimnya ruang terbuka hijau membuat area resapan air kian berkurang. Kondisi ini diperparah oleh aktivitas tambang galian C ilegal yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan menghilangkan kemampuan tanah menyerap air.
“Ini menjadi prioritas karena kejadian longsor di Bontang cukup sering terjadi. Selain kurangnya ruang serapan air, kawasan pemukiman yang semakin padat di bantaran lereng menjadi faktor dominan percepatan pergeseran tanah. Sejumlah kasus longsor bahkan terjadi tepat di area pemukiman dan mengakibatkan kerugian material,” tambahnya.

Kegiatan sosialisasi ini menjadi salah satu komitmen berkelanjutan Pemerintah Kota Bontang dalam meningkatkan kapasitas masyarakat menghadapi potensi bencana, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor demi keselamatan warga.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.