SAMARINDA – Di balik hiruk pikuk pagi di asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Samarinda, seorang remaja tampak sibuk melipat selimut dan menyapu lantai sebelum berangkat belajar. Dialah Muhammad Farrel Aksani, 17 tahun, anak kedua dari lima bersaudara yang kini menata masa depan lewat program Sekolah Rakyat bentukan Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Farrel lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya buruh harian, sementara ibunya ibu rumah tangga. Hidup dalam keterbatasan membuat sekolah sempat terhenti. Ia bahkan sempat putus sekolah selama setengah tahun setelah berhenti dari SKB Balikpapan.
“Sempat sekolah beberapa bulan aja,” ujarnya lirih, mengingat masa-masa sulit itu.
Namun, kesempatan kedua datang melalui program Sekolah Rakyat, yang menjadi bagian dari visi Presiden Prabowo untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Sejak September 2025, Farrel tinggal di asrama Samarinda, tempat ia belajar, berdoa, dan menata ulang cita-citanya.
“Di sini bangun subuh, shalat, bersih-bersih, terus belajar,” tuturnya. “Makan tiga kali sehari, makannya enak—ada nasi goreng, ayam, telur, ikan,” tambahnya sambil tersenyum malu.
Meski jauh dari rumah, Farrel merasa nyaman. Ia menemukan lingkungan yang peduli—pengajar yang tak hanya memberi pelajaran, tetapi juga bimbingan moral dan kasih sayang. “Nyaman kok di sini,” katanya singkat, namun penuh makna.
Ketika ditanya tentang cita-citanya, matanya berbinar. “Saya ingin jadi polisi,” ujarnya mantap.
Bagi Farrel, menjadi polisi bukan sekadar profesi, melainkan simbol tekad untuk melindungi dan membanggakan orang tuanya.

Pendidikan Berkarakter dan Fleksibel
Sekolah Rakyat hadir dengan sistem Multi-Entry Multi-Exit, yang memungkinkan siswa belajar sesuai kemampuan dan kondisi mereka. Kurikulumnya menggabungkan pelajaran formal dengan pendidikan karakter seperti disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, spiritualitas, dan nasionalisme.
Pembelajaran dilakukan secara digital melalui Learning Management System (LMS), dengan fasilitas lengkap seperti asrama gratis, makan tiga kali sehari, layanan kesehatan, dan akses laptop.
Selain akademik, siswa juga dibekali kelas keterampilan sesuai potensi daerah—mulai dari pertanian, teknologi, kerajinan, hingga layanan jasa. Evaluasi dilakukan berkala, mencakup aspek gizi, kesehatan, IQ, dan kedisiplinan.
Tujuan akhirnya jelas: mencetak generasi muda yang mandiri, unggul, dan siap berkontribusi bagi bangsa.
Dari Keterbatasan Menuju Harapan
Pendamping asrama menggambarkan para siswa Sekolah Rakyat sebagai anak-anak tangguh yang berjuang melampaui keterbatasan.
“Anak-anak seperti Farrel ini luar biasa. Mereka datang dengan banyak luka dan kekurangan, tapi semangatnya belajar luar biasa,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Kini setiap langkah Farrel di asrama adalah perjalanan menuju masa depan yang lebih baik. Di bawah langit Samarinda, ia menulis babak baru kehidupannya dengan tekun dan doa.
Baginya, masa depan bukan tentang seberapa mudah jalan yang ditempuh, melainkan seberapa kuat hati untuk terus melangkah.
Di Sekolah Rakyat, setiap anak membawa kisah perjuangan—dan Farrel, dengan kesederhanaannya, sedang menulis cerita tentang harapan yang tumbuh dari kesulitan, kasih, dan keberanian. (MK)
Editor: Agus S




