BONTANG — Ramadan tinggal menghitung hari. Di tengah klaim stok dan distribusi kebutuhan pokok yang aman, ancaman kenaikan harga mulai terasa di pasar-pasar Kota Bontang. Komoditas sensitif seperti cabai sudah merangkak naik signifikan, menjadi sinyal awal bahwa momentum bulan suci selalu diiringi lonjakan permintaan dan potensi gejolak harga.
Pemkot Bontang melalui dinas terkait telah melakukan monitoring terpadu ke distributor, gudang, pasar, hingga agen resmi. Hasil pemantauan menunjukkan stok beras, telur, BBM, dan LPG dalam kondisi aman.
Petugas Operasional DKP3 Bontang, Heri, menyampaikan sebagian besar bahan pokok tidak mengalami gangguan pasokan.

“Untuk beras dan telur aman. Daging memang kadang datang agak terlambat, tetapi sudah dalam perjalanan dan tidak berpengaruh pada harga,” ujarnya.
Untuk BBM dan LPG, pemerintah daerah telah mengajukan penambahan stok jelang hari besar keagamaan. Kuota LPG subsidi 3 kilogram tetap berada di kisaran 5.600 tabung per hari dengan harga Rp21.000 per tabung.
Sementara itu, Komisi B DPRD Bontang turut menggelar rapat koordinasi bersama Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Koperasi dan UMKM, PLN, serta PDAM. Dari hasil pertemuan tersebut, ketersediaan kebutuhan masyarakat dinilai masih mencukupi.
Anggota Komisi B DPRD Bontang, Ridwan, menyebut kondisi saat ini masih terkendali.
“Sejauh ini semuanya masih stabil. Memang sebagian besar bahan pokok berasal dari luar daerah, tetapi pasokannya masih lancar, terutama dari Sulawesi,” ujarnya, Sabtu (7/2/2026).
Ia juga memastikan belum ada kelangkaan LPG. Distribusi dari agen ke pangkalan berjalan normal sesuai permintaan harian.
Distribusi relatif lancar
Kabid Ketahanan Pangan DKP3 Bontang, Debora Kristiani, menjelaskan jalur distribusi pangan masih berjalan baik. Gangguan hanya bersifat insidental, misalnya akibat hambatan di perjalanan.
“Kita memang tidak memproduksi semua sumber pangan sendiri, tetapi jalur distribusi kita kuat. Pasokan bisa masuk dari Sulawesi, Surabaya, Samarinda, bahkan melalui Pelabuhan Bontang,” jelasnya.
Ia menambahkan, neraca pangan Kota Bontang dipantau setiap minggu bersama DKUMPP dan dinilai dalam kondisi aman hingga Idulfitri.

Harga mulai bergerak
Meski stok dan distribusi relatif aman, faktor harga dinilai lebih sensitif. Beberapa komoditas mulai menunjukkan tren kenaikan, terutama cabai.
“Desember masih sekitar Rp50 ribu per kilogram, sekarang sudah mendekati Rp70 ribu. Faktor cuaca sangat berpengaruh, cabai memang sensitif,” ungkap Debora.
Selain cabai, komoditas yang rawan naik menjelang Ramadan dan Idulfitri antara lain telur, daging ayam, bawang merah, dan bawang putih. Pemerintah menilai kenaikan harga tersebut masih dalam batas wajar dan dipengaruhi peningkatan permintaan serta kondisi cuaca.
Langkah intervensi pasar
Untuk menjaga stabilitas harga, Pemkot Bontang bersama Satgas Pangan Polres, DKUMPP, Bagian Ekonomi, dan DKP3 rutin melakukan monitoring. Jika terjadi lonjakan signifikan, pemerintah akan melakukan intervensi pasar.
Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) pada 11 Februari menjelang Ramadan dengan alokasi 5 ton beras SPHP. Distributor juga berpeluang menghadirkan beras premium dalam kegiatan tersebut.
“Menjelang Idulfitri nanti juga akan ada GPM lagi. Ini untuk membantu masyarakat, terutama menengah ke bawah, meskipun terbuka untuk umum,” kata Debora.
Dengan langkah tersebut, Pemkot Bontang berharap lonjakan harga dapat ditekan dan kebutuhan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri tetap terpenuhi.
Penulis: Syakurah – Dwi S
Editor: Yusva Alam




