SANGATTA – Laju inflasi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dipastikan masih dalam kondisi terkendali. Namun, di balik stabilitas tersebut, harga telur ayam menjadi catatan karena berada di atas rata-rata nasional.
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, menyampaikan bahwa secara month-to-month (mtm), inflasi daerah masih lebih rendah dibandingkan nasional. Jika inflasi nasional berada di kisaran 4 hingga hampir 5 persen, Kutim tercatat sekitar 0,9 persen.
“Selisihnya sekitar 0,4 persen dari nasional. Artinya kondisi kita masih relatif aman, meskipun tetap fluktuatif,” ujarnya usai rapat koordinasi pengendalian inflasi yang digelar di Kantor Diskominfo Kutim, Senin (6/4/2026).
Menurutnya, stabilitas inflasi sangat bergantung pada daya beli masyarakat. Selama daya beli tetap terjaga, tekanan harga masih bisa dikendalikan.
Meski demikian, Mahyunadi mengakui ada komoditas yang perlu mendapat perhatian, yakni telur ayam. Berdasarkan pemantauan di pasar, harga telur di Kutim cenderung lebih tinggi dibandingkan daerah lain.
“Kalau dibandingkan secara hitungan, selisihnya bisa sekitar Rp4.700 per kilogram. Tapi ini juga dipengaruhi perbedaan pengukuran, di sini dijual per butir, sementara nasional per kilogram,” jelasnya.
Selain itu, tingginya harga telur dipicu biaya produksi, khususnya pakan ayam petelur yang sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah, terutama Pulau Jawa. Kondisi ini membuat harga produksi menjadi lebih tinggi.
Kendati demikian, ia memastikan tidak ada indikasi penimbunan maupun permainan harga di pasaran. Secara umum, harga kebutuhan pokok masih relatif stabil.
“Tidak ada penimbunan. Harga juga masih stabil,” tegasnya.
Pemerintah daerah, lanjutnya, tetap menyiapkan langkah antisipatif jika sewaktu-waktu terjadi gejolak harga. Intervensi akan dilakukan melalui operasi pasar maupun pasar murah.
“Kalau harga tidak stabil, kita akan intervensi. Tapi saat ini belum perlu karena masih terkendali,” katanya.
Untuk jangka panjang, Pemkab Kutim didorong memperkuat ketahanan pangan daerah. Salah satunya melalui pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan pokok seperti cabai dan sayuran.
Selain itu, optimalisasi potensi lokal juga menjadi fokus, terutama komoditas jagung yang harganya di Kutim masih lebih tinggi dibanding daerah lain.
“Di luar daerah sekitar Rp6.000, di sini bisa Rp7.000 sampai Rp8.000. Artinya potensi kita ada, tinggal dimaksimalkan,” tandasnya.
Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam




