SAMARINDA — Kinerja perekonomian Kalimantan Timur sepanjang 2025 tetap menunjukkan tren positif. Di tengah fluktuasi sektor tambang, ekonomi Kaltim tercatat tumbuh 4,53 persen, ditopang kuat oleh peningkatan produksi industri, arus investasi, serta percepatan pembangunan proyek strategis nasional.
Kepala Badan Pusat Statistik Kalimantan Timur, Mas’ud Rifai, mengatakan sektor industri pengolahan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi daerah. Produksi PT Pupuk Kaltim, misalnya, mencapai 6,67 juta ton atau meningkat sekitar 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Selain itu, sejumlah industri baru mulai beroperasi, seperti smelter nikel, industri pengolahan kelapa sawit, serta industri bahan kimia, yang memberi kontribusi nyata terhadap perekonomian daerah,” ujar Mas’ud di Samarinda, Jumat (6/2/2026).
Ia juga menyoroti selesainya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dan Lawe-Lawe milik PT Kilang Pertamina Balikpapan yang turut memperkuat struktur industri dan aktivitas ekonomi di wilayah pesisir Kaltim.
Dari sisi investasi, realisasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) secara kumulatif meningkat sekitar 15 persen sepanjang 2025. Kenaikan ini mencerminkan masih kuatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Kalimantan Timur.
Mas’ud menambahkan, pembangunan masif di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah. Sejumlah proyek besar seperti jalan tol, istana wakil presiden, masjid negara, bandara VVIP, basilika, serta kawasan legislatif dan yudikatif mendorong perputaran ekonomi, khususnya di sektor jasa dan konstruksi.
Dari sisi lapangan usaha, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 13,03 persen. Pertumbuhan ini didorong meningkatnya aktivitas usaha food and beverage (FnB), penyelenggaraan festival kuliner, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sembilan kabupaten/kota, serta bertambahnya jumlah kunjungan wisatawan ke Kalimantan Timur.
Secara struktur, perekonomian Kaltim masih didominasi lima lapangan usaha utama, yakni pertambangan dan penggalian sebesar 34,18 persen, industri pengolahan 20 persen, konstruksi 11,58 persen, pertanian, kehutanan, dan perikanan 9,58 persen, serta perdagangan 7,62 persen.
“Dari lima sektor utama tersebut, tiga sektor masih mencatat pertumbuhan positif, yaitu industri pengolahan, pertanian, kehutanan dan perikanan, serta perdagangan,” jelas Mas’ud.
Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi sebesar 0,11 persen, disusul sektor konstruksi yang terkontraksi 0,17 persen. Meski demikian, BPS menilai perlambatan dua sektor tersebut masih dapat ditopang oleh penguatan industri pengolahan dan jasa, sehingga ekonomi Kaltim tetap tumbuh stabil sepanjang 2025. (MK)
Editor: Agus S




