BONTANG – Realisasi investasi di Kota Bontang pada Triwulan III Tahun 2025 kembali menunjukkan ketimpangan antarwilayah. Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) mencatat, sebagian besar modal yang masuk masih tertuju ke Kecamatan Bontang Utara.
Dari total Rp 821,53 miliar realisasi investasi sepanjang triwulan tersebut, lebih dari 95 persen, tepatnya Rp785,97 miliar mengalir ke Bontang Utara. Dua kecamatan lainnya, Bontang Selatan dan Bontang Barat, berada jauh di belakang dengan kontribusi masing-masing Rp35,23 miliar (4,28 persen) dan hanya Rp337,7 juta (0,04 persen).
Kepala DPMPTSP Bontang, Aspianur, menyebut bahwa struktur ekonomi kawasan menjadi faktor utama yang membuat Bontang Utara terus mendominasi. Kawasan industri yang terpusat di wilayah tersebut menjadi magnet terbesar bagi investor.
“Investasi industri kimia dan sektor turunannya masih menjadi penopang utama. Letaknya memang terakumulasi di Bontang Utara, sehingga distribusi investasi otomatis mengikuti pola tersebut,” jelasnya.
Dari sisi jenis penanaman modal, PMDN sektor industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi menguasai hingga 93,20 persen. Sementara investasi asing (PMA) paling besar berasal dari sektor perumahan dan industri makanan.
Meski capaian nilai investasi cukup progresif—yakni 75,85 persen dari target tahunan Rp2,5 triliun—Aspianur menyoroti persoalan lain yang masih menghambat, yaitu tingkat kepatuhan pelaku usaha dalam pelaporan. Hingga akhir Triwulan III, kepatuhan baru mencapai 44,17 persen.
Untuk mengurangi ketimpangan wilayah, pemerintah daerah tengah menyiapkan strategi baru. Salah satu fokusnya adalah pembukaan kawasan usaha di wilayah luar Utara serta penyederhanaan perizinan berbasis zonasi.
“Kita ingin investasi tidak berhenti di angka saja, tetapi juga memberikan pemerataan manfaat bagi seluruh wilayah di Kota Bontang,” ujarnya menegaskan.
Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam




