TENGGARONG – Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kalimantan Timur, Endang Lintang, menegaskan bahwa proses pencarian dan pengamanan empat anak binaan Lapas Anak Kelas II A Tenggarong yang melarikan diri dilakukan sepenuhnya dengan pendekatan humanis dan tanpa kekerasan.
“Makanya saya bilang sama teman-teman, kenapa saya langsung turun ke sini ketika mendapat cerita itu, saya tidak ingin satu orang pun anak-anak itu ketika ditangkap dipukul,” tegas Endang pada Kamis (11/12/2025).
Ia menjelaskan bahwa setiap anak binaan harus diperlakukan dengan penuh tanggung jawab, termasuk saat mereka mengalami cedera selama pelarian.
“Ya, yang jatuh tadi juga langsung kita obati, kita bersihkan lukanya, terus kita kasih sarapan pagi, supaya dia tetap sehat. Itu tanggung jawab kita,” ujarnya.
Empat anak binaan tersebut, masing-masing berasal dari Nunukan, Berau, Muara Jawa, dan Sangatta. Mereka melarikan diri pada Kamis dini hari dan berhasil diamankan kembali hanya dalam waktu sekitar delapan jam. Tiga di antaranya ditangkap di kawasan Jalan Danau Jempang dan Gunung Gandek, Kelurahan Melayu, sementara satu lainnya ditemukan di Gang Firdaus, Kelurahan Loa Ipuh.
Endang menilai tindakan para anak binaan tersebut masih dapat dipahami mengingat kondisi psikologis mereka.
“Namanya anak-anak, wajar kalau mereka rindu orang tuanya. Juga kan pikirannya masih pikiran anak-anak, ya. Anak kita saja kan kalau kita kurung di rumah bisa lari lewat jendela,” jelasnya.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak membesar-besarkan kejadian tersebut.
“Jadi memang tidak perlu ada yang dibesar-besarkan juga. Namanya Lapas anak, kan standarnya berbeda dengan Lapas dewasa,” tambahnya. (ady)
Editor: Agus S




