JAKARTA — Puluhan warga Kompleks Pejuang Berlan, Matraman, Jakarta Timur, menggelar aksi damai di kawasan Patung Kuda, Jumat (5/12/2025), memprotes pengosongan paksa rumah mereka oleh Kodam Jaya. Aksi ini digelar menyusul eksekusi dua rumah yang telah dilakukan pada 12 dan 26 November lalu, dan rencana eksekusi lima rumah berikutnya.
Pengacara warga, Gilbert Pasaribu, menegaskan bahwa rumah-rumah tersebut telah dihuni keluarga veteran sejak lebih dari tujuh dekade, dan merupakan warisan sah yang diberikan kepada para pejuang pasca-perang kemerdekaan melawan Belanda.
“Pertama, kami memohon perlindungan langsung kepada Presiden atas upaya pengosongan rumah yang dilakukan Kodam Jaya. Para penghuni adalah keluarga veteran yang tinggal secara sah,” ujar Gilbert.
Ia mengungkapkan, keluarga veteran sudah mengirim surat permohonan kepada Presiden Prabowo, namun hingga kini belum menerima jawaban resmi. Ketidakpastian itu membuat warga semakin gelisah.
“Sampai hari ini belum ada balasan. Sementara tekanan di lapangan terus meningkat dan warga, terutama lansia, sangat cemas,” katanya.
Gilbert juga menuding adanya tindakan intimidatif dalam proses pengosongan. Sejumlah warga lanjut usia disebut mengalami tekanan psikologis akibat pendekatan aparat yang dinilai tidak manusiawi.
“Kami melaporkan tindakan intimidatif yang dilakukan Mayor Ilyun Idham saat pengosongan berlangsung. Hal ini sangat meresahkan warga, terutama para orang tua dan keluarga veteran,” tegasnya.
Dalam aksi tersebut, seorang putra pejuang menyampaikan langsung harapan besar keluarga veteran agar Presiden Prabowo bersedia bertatap muka dengan mereka untuk mendengar penjelasan sejarah rumah-rumah tersebut.
“Kami berharap Bapak Presiden Prabowo Subianto mau mendengarkan keluhan kami. Pertemuan langsung penting agar tidak terjadi kesalahpahaman,” ungkapnya.
Warga menegaskan bahwa Presiden perlu mengetahui asal-usul rumah mereka yang telah ditempati sejak 1951, termasuk bagaimana hunian itu diberikan kepada para veteran oleh pihak Belanda atau KNIL setelah masa konflik.
“Pak Prabowo harus tahu bagaimana orang tua kami memperoleh rumah itu setelah masa perang melawan penjajah,” tuturnya.
Aksi berlangsung penuh emosi. Warga berorasi bergantian dan membacakan puisi berisi kegelisahan serta penolakan atas upaya pengosongan yang mereka anggap tidak menghargai jasa para pejuang bangsa.
Informasi yang berkembang menyebutkan bahwa rumah-rumah di kawasan Berlan rencananya akan digunakan sebagai tempat tinggal pangdam dari Kalimantan. Namun warga menolak tegas, menyatakan bahwa penghuni sah adalah keturunan veteran yang telah menjaga kawasan tersebut selama lebih dari 70 tahun. (rb)
Editor: Agus S




