Oleh:
Rahmi Surainah, M.Pd
Alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin
Khalifah Umar bin Abdul Aziz terkenal dengan sikap adil dan zuhud. Salah satu kisah seputar keadilannya ini terekam dalam sebuah kisah sebagaimana diceritakan dalam kitab “Hikayat Islamiyyah Qablan Naumi lil Atfhal” hasil karya Najwa Husain Abdul Aziz.
Dalam kitab tersebut diceritakan suatu ketika ada seekor serigala pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang bercampur dengan ratusan kambing yang digembalakan oleh seseorang peternak kambing. Dikisahkan bahwa ada seorang hamba shaleh yang melewati tempat gembalaan kambing seorang Arab Badui dan melihat keanehan perihal serigala yang bisa bersatu dengan kambing-kambing tersebut.
Merasa aneh dan heran, akhirnya orang saleh tersebut mendekati penggembala kambing dan bertanya perihal yang dilihatnya tersebut. Hamba saleh bertanya “Wahai penggembala, kenapa bisa bercampur antara serigala dan kambing-kambing yang Tuan gembala kan, dan serigala tersebut tidak memangsa kambing-kambing yang bersamanya?” Tanya orang saleh keheranan.
Kemudian penggembala menjawab, “Wahai saudaraku apa yang tuan lihat itu adalah karamah dan bukti keadilan khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam memimpin”.
Beberapa hari kemudian orang saleh itu melewati kembali lokasi gembalaan kambing, dan menyaksikan serigala yang sedang memangsa salah satu kambing. Si kambing menjerit histeris dan akhirnya mati. Dan ternyata kejadian tersebut sekaligus bersamaan dengan wafatnya khalifah Umar bin Abdul Aziz. Seorang penggembala Arab Badui yang jauh di pusat kota pun dapat mengetahui bahwa pemimpin yang shaleh telah wafat.
pesantrenonline.or.id/inilah-karamah-umar-bin-abdul-azis-serigala-jadi-jinak/
Demikianlah bagaimana sosok pemimpin membawa karamah akan keganjilan alam, yakni binatang buas pun tak memangsa hewan di sekitarnya. Inilah berkah dari pemimpin yang shaleh, takut dan sangat mencintai Rabb-Nya sehingga ia memimpin dengan keadilan.
Berkaca dari Sirah di atas, bagaimana dengan kondisi saat ini? Khususnya Kota Bontang yang dikatakan darurat akibat keberadaan buaya yang sering muncul di pemukiman warga bahkan memangsa manusia.
Berdasarkan catatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Bontang, sepanjang 2025 terdapat 25 laporan penampakan buaya di sejumlah wilayah pesisir. Dari jumlah tersebut, petugas berhasil mengevakuasi 10 ekor buaya. Sementara itu, sebagian lainnya tidak berhasil ditangani karena predator tersebut langsung kembali ke perairan.
Amiluddin menilai kemunculan buaya di sekitar permukiman warga juga dipengaruhi oleh ketersediaan sumber makanan, salah satunya limbah ikan yang dibuang ke laut. Buaya memiliki penciuman yang kuat sehingga jika ada limbah ikan yang dibuang ke laut akan mengundang buaya datang. Selain faktor makanan, berkurangnya habitat alami juga diduga membuat buaya semakin sering muncul di kawasan permukiman pesisir.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni pun mengungkapkan bahwa tingginya angka kemunculan buaya menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret. Meski upaya sosialisasi dan penangkapan telah beberapa kali dilakukan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait regulasi serta keterbatasan peralatan medis hewan untuk penanganan satwa liar.
Keberadaan buaya mengancam nyawa manusia tentu pemerintah harus segera mengambil tindakan agar tidak ada lagi korban. Berapa banyak sudah kabar buaya memangsa manusia? Terbaru salah satu warga Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara, menjadi korban gigitan buaya saat ingin BAB, Jumat (23/1/2026).
Sebelumnya seorang warga di Kelurahan Gunung Elai diserang buaya saat melintas di jembatan titian, Jumat (27/12/2025) sore. Korban dirujuk ke Samarinda dan akhirnya meninggal dunia. Masih ada kasus lain yang mana seorang anak berumur 11 tahun di Jalan Family, Tanjung Limau, menjadi korban gigitan buaya saat sedang berenang, Senin (24/11/2025). (Sumber diambil dan dirangkum dari media online Radarbontang)
Memang populasi buaya di wilayah pesisir Kota Bontang diperkirakan terus bertambah. Hal ini dipicu kemampuan reproduksi predator tersebut yang tergolong tinggi. Kepala Disdamkartan Bontang, Amiluddin, mengatakan satu induk buaya mampu menghasilkan puluhan telur dalam sekali masa berkembang biak. Menurutnya, dalam satu kali bertelur, induk buaya dapat menghasilkan sekitar 30 butir telur. Jika sebagian besar telur tersebut menetas dan mampu bertahan hidup, jumlah populasi buaya di suatu wilayah bisa meningkat dalam waktu relatif singkat.
Buaya pada dasarnya tidak mengganggu jika tidak diganggu. Artinya ketidakseimbangan alam akan berpengaruh pada binatang sehingga mengganggu manusia. Kondisi faktor alam yang dirusak oleh manusia membuat buaya semakin ganas. Pasalnya keberadaan buaya yang awalnya hanya di sungai sekali-kali ke darat kini merambah ke pemukiman warga bahkan memangsa manusia.
Himbauan kepada warga dan mengandalkan pemadam kebakaran tidaklah cukup. Pemerintah harus lebih serius menjaga keamanan masyarakatnya. Sudah banyak korban buaya seharusnya perlu penanganan cepat agar tidak menambah korban lagi. Jangan sampai pemerintah bergerak ketika telah terjadi korban, perlu penanganan yang tentu modal dari pemerintah sehingga masyarakat tidak bertindak mandiri, mengandalkan pawang buaya atau mistis lainnya.
Tidak hanya Kota Bontang, ancaman buaya juga terjadi di beberapa daerah lain Kaltim. Penanganan buaya seharusnya mendapat perhatian serius dari negara sekaligus menjadi evaluasi bagaimana alam kini tidak lagi bersahabat.
Fenomena kerusakan alam tidak hanya mengakibatkan banjir dan longsor tetapi binatang pun ikut terganggu. Sistem kehidupan Kapitalisme Sekuler dengan eksploitasi SDAE membuat kerusakan di mana-mana. Sudah saatnya kita kembali kepada aturan Islam dan pemimpin yang amanah takut kepada Allah.
Wallahu’alam.




