Ketua PHDI Kutim: Esensi Nyepi Bukan Heningnya Lingkungan Tapi Kemampuan Umat Mengendalikan Diri.

SANGATTA – Perayaan Hari Raya Nyepi di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), berlangsung khidmat meski tidak sepenuhnya sunyi seperti di Pulau Bali. Umat Hindu tetap menjalankan ritual dengan penuh makna, di tengah kehidupan masyarakat yang berjalan terbatas.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kutim, I Gusti Bagus Oka Mahendra, menegaskan bahwa esensi Nyepi tidak hanya terletak pada kondisi lingkungan yang hening, tetapi pada kemampuan umat dalam mengendalikan diri.

“Yang utama itu bagaimana kita melaksanakan Catur Brata Penyepian dengan sungguh-sungguh. Walaupun di luar tidak sepenuhnya sepi, makna Nyepi tetap bisa dirasakan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, umat Hindu di Sangatta tetap menjalankan empat pantangan utama, yakni tidak menyalakan api berlebihan, tidak bekerja, tidak bepergian, serta tidak menikmati hiburan. Semua itu menjadi bagian dari proses introspeksi diri dan penyucian batin.

Sehari sebelum Nyepi, semarak pawai Ogoh-ogoh turut mewarnai perayaan. Patung raksasa berwujud menyeramkan diarak oleh para pemuda sebagai simbol Bhuta Kala atau energi negatif yang harus dinetralisir.

Baca Juga:  Pelindo Komitmen Awasi Pengolongan 24 Jam Pasca Insiden Penabrakan Jembatan Mahulu

“Ogoh-ogoh itu simbol. Setelah diarak, biasanya dimaknai sebagai pelepasan hal-hal buruk dalam diri manusia sebelum memasuki hari hening,” jelasnya.

Menurutnya, pelaksanaan Nyepi di Kutai Timur memiliki ciri khas tersendiri karena berada di tengah masyarakat multikultural. Aktivitas umum tidak berhenti total, namun toleransi antarumat beragama berjalan baik.

Ia mengapresiasi masyarakat non-Hindu yang turut menjaga ketenangan selama Nyepi, khususnya di lingkungan tempat ibadah dan permukiman umat Hindu.

“Ini yang kami rasakan di Kutim, kebersamaan dan saling menghargai itu sangat kuat. Nyepi bukan hanya milik umat Hindu, tapi juga menjadi momentum memperkuat toleransi,” tuturnya.

Dengan kondisi tersebut, ia berharap nilai-nilai Nyepi tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mengendalikan diri di tengah dinamika sosial.

“Harapan kami, semangat Nyepi ini bisa membawa kedamaian, bukan hanya bagi umat Hindu, tapi untuk seluruh masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.