Kian Tergerus, Dishub Kutim: “Hampir Punah, Tapi Masih Dibutuhkan Pelajar”

SANGATTA — Keberadaan angkutan kota (angkot) di Sangatta perlahan hilang dari jalan raya, terseret arus dominasi kendaraan pribadi yang semakin tak terbendung.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kutai Timur (Kutim) tidak menampik gejala ini. Kepala Seksi Lalu Lintas Dishub Kutim, Zulkarnain, menyampaikan gambaran situasi yang cukup suram.

“Angkot di sini hampir punah. Masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada angkutan umum,” katanya, menegaskan kondisi yang selama ini hanya menjadi pembicaraan di lapangan.

Ironisnya, meski jumlah armada menipis, sebagian pelajar masih menggantungkan mobilitas pada angkot. Beberapa sekolah melarang siswa membawa kendaraan pribadi, sehingga angkot tetap menjadi pilihan mereka.

Namun tanpa perbaikan layanan, peremajaan armada, atau dukungan kebijakan, keberlangsungan angkot dipertanyakan. Di sisi lain, masyarakat terus didorong membeli kendaraan pribadi melalui skema kredit yang kian mudah.

Zulkarnain menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan antrean panjang di SPBU sebagai beban berat bagi sopir angkot. Bagi banyak pemilik armada, biaya operasional tidak lagi sebanding dengan jumlah penumpang yang terus menurun.

Baca Juga:  Bawa Audit ke Kemenkeu, Bupati Kukar Target Lunasi Utang Rp820 Miliar Maret 2026

“BBM yang naik, antrian panjang, ditambah kendaraan pribadi makin mudah dibeli. Belum lagi hadirnya ojek online. Masyarakat akhirnya malas menggunakan angkot,” ujarnya.

Namun persoalan ini tampaknya tidak hanya sebatas BBM atau ojek online. Minimnya perhatian terhadap transportasi publik, tidak adanya insentif bagi pengusaha angkot, serta ketidakpastian kebijakan trayek menjadi faktor yang selama ini luput dari sorotan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, Sangatta terancam menjadi kota tanpa transportasi publik yang memadai. Beban lalu lintas, polusi, dan ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi akan meningkat tajam.

Angkot yang dahulu menjadi simbol pergerakan masyarakat kelas pekerja dan pelajar, kini berdiri di ambang kepunahan—dan hingga kini, belum ada sinyal kuat bahwa pemerintah akan mengambil langkah korektif.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.