Oleh:
Hafsah
Penulis dan Aktivis
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Negeri 2 Bontang kembali jadi sorotan. Pasalnya, dua kali menu yang diterima siswa ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi alias basi.
Kepala Regional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Surya Dwi Saputra, membenarkan adanya laporan tersebut.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 2 Bontang, Suyanik mengatakan insiden pertama terjadi pekan lalu saat menu nasi goreng disajikan. Aroma tak sedap muncul dari timun yang cepat busuk dan membuat nasi berair. Kasus serupa kembali terjadi Kamis (2/10) ketika siswa menerima menu batagor.
Alhasil, para pelajar memilih tidak menyantap hidangan tersebut dan mengembalikannya ke SPPG.
https://bontangpost.id/dua-kali-menu-mbg-di-sma-2-bontang-basi-sppg-evaluasi-dapur
Sementara di Kota Balikpapan terlihat divideo siswi SMK yang diduga keracunan usai menyantap MBG mendapat respons dari warga Balikpapan. Mereka menuntut pemerintah segera bertanggung jawab dan melakukan evaluasi total terhadap program MBG yang dianggap penuh kontroversial itu.
Program Makan Bergizi Gratis adalah salah satu langkah strategis dalam mewujudkan visi Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto untuk Indonesia Emas 2045. Program ini diluncurkan untuk mendukung salah satu dari delapan misi Asta Cita, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia.
Makanan Gratis Namun Beresiko
Untung belum dapat diraih, malang sudah terjadi. Inilah yang terjadi pada program makan gratis. Niat hati ingin memberi gizi terbaik, yang ada malah keracunan.
Walau digadang-gadang sebagai program unggulan pemerintahan baru dengan peningkatan gizi, nyatanya malah meresahkan murid dan orang tua.
Walau di kota Bontang belum terjadi keracunan karena makanan hanya terendus basi, namun para pihak terkait harus lebih cermat dalam menangani MBG ini. Sebelum menelan korban keracunan seperti di daerah lain, pihak katering yang ditunjuk harus ekstra memperhatikan mulai dari pemilihan bahan baku, ketepatan waktu masak dalam jumlah yang besar, dan waktu pengantaran yang bersamaan perlu dipikirkan ulang.
Karena dampak tidak hanya dirasakan oleh murid tapi beban perhatian para guru disamping mengajar perlu dikaji pula. Tuntutan dalam mengajar butuh tenaga
ekstra, ditambah lagi mengatur urusan makanan muridnya. Imbas berikutnya adalah tim kesehatan, karena terjadinya keracunan massal maka pihak kesehatan tentu disibukkan pula jika terjadi keracunan yang seringnya terjadi massal.
MBG meski disebut program, nyatanya tak lebih sebagai proyek dimana banyak melibatkan pihak. Inilah mengapa program ini disambut baik oleh sebagian masyarakat karena selain gratis, ada pihak terkait seperti jasa katering, pemasok bahan, supliyer alat makan lebih melihat peluang keuntungan didalamnya. Keuntungan menjadi alasan utama sehingga pihak terkait saling mendukung agar program MBG terealisasi. Terjadilah simbiosis mutualisme yang lahir dari penerapan sistem Kapitalis sekuler.
Dengan anggaran besar yang telah dikeluarkan oleh pemerintah, mestinya MBG dilakukan harus dengan rapi tanpa masalah. Belum lagi beberapa anggaran yang dipotong untuk alokasi dana MBG, berimbas pada pemangkasan anggaran yang urgen bagi masyarakat. Padahal MBG seperti kita ketahui bukanlah program yang menyentuh akar masalah pada rakyat. Jika untuk tambahan gizi, balita dan anak-anak lebih butuh karena merekalah yang rentan terhadap kasus stunting.
Pemerintah hanya perlu fokus menyediakan apa kebutuhan dasar masyarakat. Pekerjaan misalnya, dengan tersedianya lapangan pekerjaan dan gaji yang mapan, pasti kebutuhan gizi dalam rumah tangga akan terpenuhi tanpa pemerintah turun tangan mengatasi kekurangan gizi pada anak sekolah.
Langkah Islam Dalam Memenuhi Gizi Masyarakat
Islam sebagai ideologi tentu punya mekanisme dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakatnya tanpa perlu repot memberi makan gratis. Politik Islam mengatur bahwa Pemerintah adalah pelayan bagi rakyat. Maka pengaturan dimulai dengan memastikan setiap individu laki-laki untuk bekerja dengan menyediakan lapangan pekerjaan sesuai dengan skill masing-masing. Dengan begitu, setiap kepala rumah tangga bertanggung jawab memenuhi kebutuhan rumah tangga baik pangan, sandang dan papan.
Dalam surat At Taubah ayat 105, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya agar selalu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pekerjaan tersebut bertujuan untuk mencukupi kebutuhan hidup serta mendekatkan diri kepada Allah dan bernilai ibadah.
Dalam kasus pemenuhan gizi, jika diperlukan maka pemerintah akan
melibatkan para pakar dalam membuat kebijakan terkait, baik pemenuhan gizi, pencegahan stunting maupun dalam mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan. Dananya tentu saja diambil dari Baitul mal yang bersumber dari fa’i dan kharaj, kepemilikan umum, dan zakat. Hal ini, menegaskan bahwa untuk alokasi tambahan tidak perlu memotong anggaran lainnya karena sumber dana cukup memadai terutama hasil bumi.
Pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatab, beliau dikenal sebagai khalifah yang sering meronda keliling negeri pada malam hari untuk melihat situasi dan kondisi rakyatnya. Pada suatu malam, Umar lewat di depan sebuah gubuk dan mendengarkan tangisan anak. Umar mendekati gubuk tersebut agar tidak ketahuan penghuninya. Dari dalam gubuk, Umar mendengarkan dengan jelas tangisan beberapa orang anak yang meminta makanan kepada ibunya. Sang ibu mencoba menghibur anaknya dengan mengatakan bahwa makanan sedang dimasak dan sebentar lagi akan dihidangkan.
Pada mulanya Umar lega mendengarkan penjelasan sang Ibu, tetapi setelah beberapa jam makanan tersebut belum juga disajikan dan sang Ibu selalu memberikan jawaban yang sama bila anaknya bertanya sambil menangis.
Umar sangat heran dan bertanya di dalam hati, apa gerangan yang dimasak sang Ibu. Rasa penasaran itu terus ada meskipun anak-anak si Ibu telah diam karena kelelahan dan kelaparan. Umar mencoba mendekat ke arah dapur dan mengintip masakan sang Ibu.
Umar sangat terkejut ketika mengetahui bahwa yang dimasak sang Ibu hanyalah batu yang tidak akan mungkin masak sampai kapanpun. Keesokannya Umar memerintahkan agar mengirimkan sekarung gandum ke rumah tersebut, agar sang Ibu dapat memasaknya untuk memberi makan anak-anaknya.
Langkah Umar bin Khattab bukanlah sebuah program, namun itu adalah langkah taktis yang dilakukan ketika menghadapi situasi kemiskinan yang bisa menyebabkan kekurangan gizi pada anak. Sebagai seorang pemimpin tentu hal tersebut merupakan kewajiban yang akan diminta pertanggung jawabannya diakhirat kelak.
Hal itu membuktikan bahwa Pemerintah mengontrol penuh atas kehidupan rakyatnya. Prioritas utama adalah kesejahteraan rakyat. Bila kepala rumah tangga tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya maka bantuan dari pemerintah wajib ditunaikan agar tidak terjadi kelaparan. Tentu saja, rasa keimanan yang melandasi sikap tersebut, sehingga pemerintah dan rakyat saling memahami fungsi dan perannya masing-masing.
Wallahu a’lam bisshowab




