Kondisi Geografis Jadi Tantangan Pembangunan Koperasi Merah Putih di Kutim

SANGATTA— Kondisi geografis ekstrim menjadi ujian serius bagi program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Kodim 0909/KTM sebagai pelaksana teknis menargetkan pendirian satu unit koperasi di setiap desa. Dari total 141 desa dan kelurahan yang menjadi sasaran, hingga kini sebanyak 109 desa telah menyatakan kesiapan lahan secara administrasi. Sebanyak 87 desa di antaranya bahkan sudah memulai pembangunan fisik gedung koperasi.

Namun, Danramil 0909-01/Sangatta, Kapten Inf Arif Sapardiyanto, menegaskan bahwa tantangan terbesar justru terletak pada kondisi medan.

“Bukan soal dana, tapi medan. Ada lahan rawa dan ada juga perbukitan terjal. Ini membuat pekerjaan alat berat tidak maksimal,” ujar Arif kepada Media Kaltim, Kamis (29/1/2026).

Ia mencontohkan wilayah Kabo yang memiliki kontur perbukitan. Meski telah masuk portal dan memperoleh alokasi anggaran dari DPP, proses pembangunan terhambat pada tahap awal pematangan lahan.

“Anggaran Rp 1,1 miliar itu murni untuk bangunan. Tidak termasuk pematangan lahan seperti cut and fill. Akhirnya desa harus berupaya sendiri,” jelasnya.

Baca Juga:  Dorong UMKM Paser Naik Kelas, Komisi X DPR RI dan BRIN Gelar Workshop Strategi Pemasaran

Menurut Arif, dari 109 desa yang telah siap secara administrasi, sebagian masih menghadapi kendala fisik lahan yang cukup berat. Tanpa pematangan lahan yang memadai, distribusi material bangunan tidak bisa dilakukan secara optimal.

Di sisi lain, progres di Kelurahan Teluk Lingga masih berada pada tahap penetapan lokasi. Hal ini disebabkan ketatnya regulasi yang harus dipenuhi sebelum pencairan dana pembangunan. Teluk Lingga diproyeksikan menjadi proyek perdana di tingkat kabupaten yang memerlukan pendampingan khusus agar selaras dengan ketentuan yang berlaku.

Meski diuji medan ekstrem, Kodim 0909/KTM optimistis program Koperasi Merah Putih tetap berjalan sesuai target. Sinergi antara pemerintah desa dan swadaya masyarakat dinilai menjadi kunci agar hambatan geografis tidak menghambat tujuan besar penguatan ekonomi kerakyatan.

“Kuncinya lahan harus siap. Kalau itu sudah beres, pembangunan bisa langsung jalan,” pungkas Arif.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.