Kopi Liberika Sepaku Diburu Qatar, Produksi Baru 5 Ton per Tahun

NUSANTARA – Permintaan ekspor kopi Liberika dari Sepaku, Ibu Kota Nusantara (IKN), ternyata luar biasa besar. Qatar bahkan telah menyatakan minat membeli 400 ton Liberika, setara 20 kontainer ekspor. Namun, cita rasa khas yang diminati pasar internasional itu belum mampu terpenuhi karena produksi masih terbatas, baru 5,1 ton per tahun dari area tanam produktif seluas 17 hektare.

Ketua Komunitas Petani Kopi Liberika Sepaku, Sugiman, mengungkapkan bahwa kopi Liberika asal Sepaku memiliki karakter unik yang membuatnya dilirik pembeli luar negeri. “Liberika Sepaku ini punya cita rasa khas yang dicari pasar internasional. Permintaan ekspor tinggi, tapi kita belum mampu memenuhi. Produksi kita masih minim, budidayanya perlu dimasifkan lagi di Sepaku,” ujarnya saat ditemui di lokasi penanaman 1.010 bibit Liberika di DAS Sanggai, Kecamatan Sepaku.

Kini komunitas petani tengah menghidupkan kembali tradisi Liberika yang sudah ada sejak 1981 di wilayah transmigrasi lama Sepaku. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui gerakan penanaman massal dengan melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Dasawisma. “Kami wajibkan setiap anggota KWT menanam minimal 10 pohon. Kalau satu KWT ada 10 anggota, berarti 100 bibit per kelompok. Dikalikan jumlah KWT di 11 desa dan 4 kelurahan, bisa ribuan bibit baru tumbuh di Sepaku,” terang Sugiman.

Baca Juga:  20 Desa di PPU dan Kukar Terpotong Delineasi IKN, Pemerintah Daerah Minta Diskresi Penataan Wilayah
Ketua Komunitas Petani Kopi Liberika Sepaku, Sugiman, menanam bibit kopi Liberika di kawasan DAS Sanggai, Sepaku. (Foto: Riski)

Dengan rata-rata produksi 8–10 kilogram kopi per pohon, potensi hasil panen dari ribuan pohon baru ini diyakini akan mengubah wajah ekonomi desa. Sugiman menyebut, secara ekonomi, usaha kopi Liberika jauh lebih menguntungkan daripada sawit. “Setelah kami hitung, hasilnya jauh lebih besar dari sawit. Biaya perawatannya juga jauh lebih ringan,” tegasnya.

Selain faktor ekonomi, semangat menanam kopi Liberika juga didorong oleh nostalgia sejarah transmigran era 1980-an yang dulu banyak membudidayakan Liberika sebagai tanaman unggulan di Sepaku. Kini, semangat itu kembali hidup bersama geliat pembangunan IKN.

Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), Basuki Hadimuljono, menyebut potensi kopi Liberika sebagai “emas hijau baru” bagi Kalimantan Timur. “Kopi Liberika lokal ini sudah meraih permintaan ekspor fantastis. Qatar saja pesan 20 kontainer, sementara lahan produktif baru 17 hektare. Target kita 2.000 hektare,” ungkap Basuki.

OIKN, lanjutnya, tidak tinggal diam. Pemerintah berkomitmen mendukung para petani lokal agar mampu memperluas lahan tanam dan meningkatkan kapasitas produksi. “Jangan khawatir, sekarang bapak-ibu punya dua orang tua asuh — OIKN dan Bank Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga:  Komisi VI DPR RI Turun Langsung ke IKN, Anggia: Bukan Sekadar Siap, Tapi Harus Layak Ditinggali

Dengan dukungan tersebut, aroma kopi Liberika Sepaku tak hanya akan mengharumkan Ibu Kota Nusantara, tetapi juga membuka jalan bagi komoditas ekspor baru yang membanggakan Indonesia di pasar dunia.

Pewarta: Atmaja Riski

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.