PASER – Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Telake memastikan kemunculan hotspot atau titik panas yang beberapa kali terdeteksi di wilayah Kabupaten Paser selama musim kemarau tahun ini masih dalam kategori aman. Meski pada 8 November lalu terpantau hingga 11 hotspot di beberapa lokasi, kondisi tersebut belum menunjukkan adanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala UPTD KPHP Telake, Sahar Al-haqq, menjelaskan bahwa kemunculan hotspot tidak selalu berarti adanya titik api atau firespot.
“Jadi pada status normal itu, biasanya walaupun dipantau dari hotspot ada 11 titik panas, tapi itu bukan titik api atau firespot, melainkan titik panas saja,” ujarnya, Jumat (14/11/2025).
Untuk membedakan titik panas dengan potensi kebakaran, tim relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) di desa-desa selalu diterjunkan untuk melakukan pengecekan langsung di lapangan.
“Teman-teman MPA akan melakukan ground check ke lokasi untuk memastikan apakah yang terdeteksi itu adalah titik api atau hanya titik panas,” tambahnya.
Berdasarkan laporan tim MPA, seluruh hotspot yang muncul di wilayah Paser dalam beberapa pekan terakhir bukan merupakan kejadian kebakaran. Kondisi cuaca yang termasuk kategori kemarau basah, dengan curah hujan yang tetap tinggi, turut meminimalkan risiko karhutla.
“Terlebih saat ini termasuk kemarau basah, dimana curah hujan tetap tinggi meski sudah memasuki musim kemarau,” jelas Sahar.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa beberapa wilayah tetap tergolong rawan kebakaran, terutama area produktif yang digunakan masyarakat untuk berkebun. Pola membuka lahan dengan cara membakar, meskipun terkendali, tetap memicu munculnya hotspot.
“Daerah rawan lebih banyak di wilayah yang digunakan masyarakat untuk berkebun, karena pola masyarakat kita itu masih membakar lahan untuk membuka atau membersihkan area. Walaupun bakarnya terkendali, tetap terpantau hotspot,” pungkasnya.
KPHP Telake dan MPA akan terus melakukan patroli dan pemantauan untuk memastikan seluruh aktivitas lahan tetap aman selama musim kemarau. (nsr)
Editor: Agus S




