SANGATTA — Beredarnya video limpasan air di wilayah konsesi PT Kaltim Prima Coal (KPC) memicu perhatian publik dan mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Timur turun tangan. Rekaman yang viral sejak Kamis (5/2/2026) itu menimbulkan dugaan adanya gangguan pada sistem pengelolaan air di salah satu perusahaan tambang terbesar di Kutim.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat air menggenangi ruas jalan di area konsesi KPC dengan ketinggian yang cukup signifikan. Genangan tersebut sempat menghambat aktivitas kendaraan angkutan karyawan. Video lain memperlihatkan pekerja KPC mengerahkan alat berat untuk menangani aliran air yang meluap.
Menanggapi hal tersebut, General Manager External Affairs & Sustainable Development (ESD) PT KPC, Wawan Setiawan, menegaskan bahwa peristiwa itu bukan disebabkan kebocoran sistem pengelolaan air tambang.
Menurut Wawan, limpasan air terjadi akibat intensitas hujan yang sangat tinggi sehingga air mengalir ke titik terendah di area tambang terbuka.
“Kalau hujan besar, air pasti mengalir ke titik terendah. Yang terjadi kemarin itu overflow di jalan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (7/2/2026).
Ia menjelaskan, kondisi seperti itu lazim terjadi di area pertambangan terbuka ketika curah hujan turun dalam waktu singkat dengan intensitas tinggi. Air akan mengikuti kontur permukaan tanah dan melimpas ke area terendah.
Wawan juga membantah informasi yang menyebut adanya tanggul jebol di lokasi kejadian. Menurutnya, di area tersebut tidak terdapat tanggul sebagaimana yang ramai dibicarakan.
“Di kami itu tidak ada tanggul. Yang ada embankment untuk pengelolaan air,” katanya.
Pihak manajemen memastikan limpasan air tersebut telah ditangani oleh tim internal KPC dan kondisi di lapangan kini telah kembali normal. Aktivitas operasional perusahaan, kata Wawan, berjalan seperti biasa.
Namun demikian, ia menyayangkan beredarnya video tersebut tanpa disertai penjelasan yang utuh. Menurutnya, rekaman itu diduga dibuat oleh karyawan dan disebarkan tanpa konteks yang memadai sehingga memicu spekulasi publik.
“Yang saya sayangkan, ada karyawan yang ngevideo lalu kirim tanpa konteks. Akhirnya jadi isu ke mana-mana,” ucapnya.
Ke depan, manajemen KPC berencana memperketat aturan internal terkait penyebaran informasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Saya akan menegakkan aturan internal. Jangan sampai karyawan ngevideo lalu sebar tanpa klarifikasi resmi,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kutai Timur, Aji Wijaya Effendie, mengatakan pihaknya telah menurunkan pejabat pengawas lingkungan untuk melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi limpasan air di area konsesi KPC sekaligus menelusuri kemungkinan keterkaitannya dengan banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Sangatta.
“Saya sudah perintahkan pengawas sejak tadi malam untuk melakukan pengecekan langsung dan menyesuaikan dengan kondisi banjir yang terjadi,” kata Aji.
DLH Kutai Timur memastikan akan melakukan pemeriksaan menyeluruh guna memastikan tidak ada dampak lingkungan yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut. (ramlah)
Editor: Agus S




