Mengelola Sampah, Mengelola Hati

Oleh:
Widodo Nasrudin

Suatu pagi yang tenang, saya menyaksikan seorang ibu tua berjalan perlahan di pinggir jalan. Ia menunduk sabar, memungut plastik bekas satu per satu, lalu memasukkannya ke dalam kantong lusuh yang dijinjingnya.

Wajahnya tampak tenang, tanpa keluhan, seolah-olah apa yang dilakukannya adalah hal paling wajar di dunia. Padahal, tak ada upah yang menantinya. Ia bukan pejabat, bukan petugas kebersihan. Ia hanya tak sanggup melihat bumi terus dilukai oleh tangan-tangan yang tergesa dan hati-hati yang abai.

Gambaran itu tak pernah benar-benar hilang dari ingatan saya. Sebab sejatinya, persoalan sampah bukan sekadar urusan teknis, apalagi hanya soal proyek pemerintah. Ia adalah cermin—dari kesadaran, dari nilai hidup, dari cara kita memuliakan sesama makhluk dan lingkungan tempat kita tinggal.

Hari ini, Kota Bontang dihadapkan pada kenyataan yang tak bisa lagi ditunda: Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bontang Lestari hampir mencapai batas kapasitas. Setiap hari, ratusan ton sampah mengalir dari rumah tangga, pasar, sekolah, rumah makan, kantor, hingga tempat ibadah. Semuanya dibuang dengan keyakinan samar bahwa akan selalu ada yang membereskan.

Baca Juga:  Di Bontang ASN Dilibatkan PMT dalam Penurunan Stunting, Sebegitu Genting?

Namun, bumi bukan pelayan yang bisa terus menampung tanpa batas. Lahan tidak bertambah. Udara tak bisa terus-menerus menyaring bau dan polusi. Sungai mulai berbisik lirih, tanah mengernyit, dan langit memandang kita dengan prihatin. TPA yang sesak adalah isyarat keras: ada yang keliru dalam cara kita hidup.

Meski demikian, di tengah kekhawatiran itu, tumbuh pula kabar baik yang patut disyukuri. Bank Sampah Unit (BSU) kini hadir di hampir setiap RT di Bontang. Di tempat yang sederhana itulah, harapan disusun kembali—dari botol plastik, dari kardus bekas, dari baki telur yang dahulu dianggap remeh.

Sayangnya, banyak orang masih keliru memahami bank sampah. Ia dianggap sekadar tempat menukar sampah dengan rupiah. Padahal, nilainya jauh melampaui itu. Ia adalah ruang pendidikan: tempat menanamkan kesadaran baru, membentuk kebiasaan hidup bersih, dan memperbaiki cara pandang terhadap limbah dan tanggung jawab lingkungan.

Anak-anak yang membawa botol plastik dari rumah lalu menimbangnya di bank sampah bukan sekadar belajar tentang lingkungan. Mereka sedang dilatih untuk bertanggung jawab. Mereka belajar bahwa kebersihan bukan tugas petugas semata, melainkan bagian dari akhlak mulia.

Baca Juga:  Parjo, Ewin Dan Covid

Dalam Islam, kebersihan bahkan dimuliakan sebagai bagian dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kesucian (kebersihan) adalah separuh dari iman” (HR. Muslim).

Sayangnya, ungkapan itu lebih sering menghiasi poster dan dinding masjid daripada mewujud dalam tindakan nyata. Padahal, membuang sampah sembarangan bisa mencelakai makhluk Allah yang lain: menyumbat aliran air, meracuni ikan, menciptakan sarang penyakit. Menjaga kebersihan bukan hanya ibadah fisik, tapi juga ibadah sosial, bahkan ekologis.

Belajar dari Pohon yang Tak Pernah Mengeluh

Lihatlah pohon. Ia tak pernah berbicara, tapi selalu memberi. Dari akar hingga pucuk, semuanya bermanfaat. Tak ada yang dibuang sia-sia. Bahkan daun keringnya pun menjadi pupuk bagi kehidupan baru. Kita sepatutnya belajar dari pohon—tentang keikhlasan memberi, tentang kebijaksanaan dalam mengelola yang tersisa.

Pengelolaan sampah mandiri adalah ikhtiar kita untuk meniru pohon. Kita belajar mengembalikan yang bisa dikembalikan. Kita belajar mengelola, bukan sekadar membuang. Kita belajar mencintai bumi, bukan menyakitinya.
Bukan Soal Kekurangan, Tapi Soal Kesadaran

Bontang bukan kota yang kekurangan program, bukan pula kekurangan niat baik. Yang kita butuhkan hari ini adalah menyuburkan kembali kesadaran. Menghidupkan hati yang peduli dan tangan yang tergerak.

Baca Juga:  Perlindungan Komprehensif pada Perempuan dan Anak

Bank Sampah Unit yang kini menjamur adalah modal sosial sekaligus spiritual yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita menjaganya—dengan keikhlasan, keteladanan, dan ketekunan. Sebab membangun sistem itu mudah. Yang sulit adalah menumbuhkan budaya. Dan hanya budaya yang tumbuh dari hati yang bisa bertahan lama.

Sampah bukan musuh. Ia adalah pengingat. Tentang cara kita mengonsumsi, tentang jejak yang kita tinggalkan, dan tentang tanggung jawab yang belum kita tunaikan.

Maka marilah kita muliakan bumi ini dengan cara paling sederhana: memungut, memilah, dan mengelola. Tak perlu menunggu sempurna. Mulailah dari rumah. Dari dapur. Dari dua ember—satu untuk yang bisa membusuk, satu lagi untuk yang bisa didaur ulang.
Dari satu tindakan kecil itulah lahir masa depan yang lebih bersih, lebih sehat, dan—insya Allah—lebih penuh berkah. (*)

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.