SANGATTA – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), Kutim resmi menginisiasi Sekolah Lansia, dengan menyiapkan 200 kursi bagi warga senior di wilayah Sangatta Utara.
Program yang baru pertama kali digelar di Kutim ini langsung mendapat sambutan positif. Hingga akhir Januari, tercatat 81 lansia telah mendaftar untuk mengikuti kurikulum khusus bagi warga berusia di atas 60 tahun.
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, mengatakan pelaksanaan tahap awal difokuskan di empat wilayah strategis, yakni Desa Sangatta Utara, Desa Swarga Bara, Desa Singa Gembara, dan Kelurahan Teluk Lingga. Masing-masing wilayah mendapat kuota 50 peserta.
“Untuk sementara kita fokus di Sangatta Utara dulu. Targetnya 200 orang dan saat ini sudah ada 81 lansia yang mendaftar. Ini langkah konkret agar orang tua kita tetap berdaya di masa tua,” ujar Junaidi kepada saat ditemui, Jumat (30/1/2026).
Berbeda dari kegiatan lansia pada umumnya, Sekolah Lansia di Kutim dirancang menyerupai pendidikan nonformal. Peserta wajib mengikuti 12 kali pertemuan dalam rentang waktu enam bulan hingga satu tahun. Kehadiran menjadi syarat utama. Lansia dengan tingkat kehadiran minimal 80 persen berhak mengikuti wisuda.
Materi pembelajaran mencakup tujuh dimensi kehidupan, mulai dari penguatan spiritual, pemeriksaan kesehatan rutin, aktivitas fisik melalui senam lansia, hingga bimbingan mental. Tujuannya untuk menciptakan lansia yang sehat, mandiri, dan bahagia.
“Program ini sebenarnya sudah lama berjalan secara nasional. Namun untuk Kutim, ini yang pertama kali kita laksanakan. Harapannya bisa menjadi percontohan bagi kecamatan lain,” tambahnya.
Untuk memastikan program tepat sasaran, DPPKB Kutim tidak hanya menunggu pendaftar. Petugas akan melakukan jemput bola dengan mendatangi langsung rumah warga hingga tingkat RT. Langkah ini dipermudah dengan pemanfaatan data by name by address melalui aplikasi Sistem Informasi Gizi dan Lintas Sektoral (SIGLC).
Tak hanya menyasar lansia, Februari 2026 mendatang Kutim juga akan meluncurkan Akademi Kolaborasi Penanganan Stunting dan Kemiskinan (AKSIS). Program ini mengintegrasikan data lintas instansi mulai dari DPPKB, Dinas Kesehatan, Dinsos, Disdukcapil, BPS, hingga Diskominfo untuk merumuskan intervensi terpadu dalam menekan kemiskinan ekstrem.
“Data dari berbagai dinas akan kita kawinkan. Dari sana muncul rekomendasi program yang disinergikan dengan 50 program unggulan bupati,” jelas Junaidi.
Selain itu, Kutim juga ditunjuk sebagai pilot project Gerakan Nasional Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING). Gerakan non-APBD ini mengandalkan partisipasi masyarakat untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar keluarga berisiko, mulai dari penyediaan air bersih hingga pembangunan jamban sehat.
Dengan hadirnya Sekolah Lansia, Kutim menegaskan komitmennya bahwa pembangunan manusia tidak berhenti di usia produktif, tetapi juga memastikan masa tua tetap bermartabat dan berdaya.
“Pembangunan manusia tidak boleh berhenti di usia produktif. Lansia juga harus kita siapkan agar tetap berdaya,” tandasnya.
Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam




