BONTANG – PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) resmi memulai pembangunan pabrik Soda Ash di kawasan perusahaan. Hal itu ditandai dengan kegiatan groung breaking proyek pabrik tersebut, Jumat (31/10/2025).
Proyek strategis ini menandai langkah besar dalam upaya hilirisasi industri kimia nasional, serta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku industri. Proyek ini dibangun konsorsium PT TCC Indonesia Branch dan PT Enviromate Technology.
Pabrik Soda Ash PKT memiliki kapasitas produksi 300.000 metrik ton per tahun (MTPY) untuk produk Soda Ash, serta 300.000 MTPY Ammonium Chloride. Produk ini akan dipasarkan untuk kebutuhan domestik dan ekspor, menggunakan HOU Process sebagai teknologi utama.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi dalam keterangannya, menyampaikan bahwa proyek ini merupakan bagian dari komitmen PKT mendukung transformasi industri kimia nasional, dan mendukung ketahanan pangan melalui pemanfaatan Ammonium Chloride sebagai pupuk sumber nitrogen serta bahan baku NPK.
“Pabrik ini tidak hanya memperkuat hilirisasi amoniak, tetapi juga menekan impor Soda Ash yang selama ini mencapai lebih dari 1 juta ton per tahun,” jelasnya.
Proyek yang berdiri di atas lahan 16 hektare di kawasan Tursina Barat, PT Kaltim Industrial Estate Bontang, ini akan menyerap 800 tenaga kerja saat konstruksi dan 86 pekerja pada fase operasional.
Durasi proyek ditargetkan selama 33 bulan untuk EPC A dan 32 bulan untuk EPC B, dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimum mencapai 27,59 persen dan 35,01 persen. Proyek efektif dimulai Juni 2025, dan diproyeksikan beroperasi komersial pada Maret 2028.
Selain meningkatkan nilai tambah amoniak domestik sebesar 105.000 ton per tahun, pabrik ini juga berperan dalam penurunan emisi karbon (CO₂) melalui penyerapan 174.000 ton CO₂ per tahun yang digunakan sebagai bahan baku produksi Soda Ash.
Adapun soda Ash merupakan salah satu bahan baku yang sering kali dijadikan kaca, keramik, tekstil, deterjen bahkan dapat menjadi salah satu bahan yang digunakan untuk proses pembuatan pupuk yang biasanya dipergunakan untuk kebun kelapa sawit.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi di Kota Bontang tanpa migas ialah 9,8 persen, “Kalau dengan migas fluktuatif jadi kadang-kadang kita positif 2% tetapi kalau dipisahkan tanpa migas alhamdulillah kita melebihi nasional 9,8 persen,” terangnya.
Hal ini juga salah satunya kontribusi dari usaha-usaha yang ada di Kota Bontang. Tentu mengurangi pengangguran dan lain sebagainya.
Kemudian, dapat meningkatkan ketika ada ekonomi makro, juga adanya pertumbuhan ekonomi mikro. Pemerintah Kota Bontang juga turut mengucapkan terima kasih kepada Pupuk Kalimantan Timur yang CSR-nya berkolaborasi dengan visi dan misi pemerintah Kota Bontang.
Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam




