SENDAWAR – Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar) mulai memetakan sejumlah kawasan yang dinilai potensial untuk program cetak sawah baru. Sedikitnya delapan lokasi telah diidentifikasi, namun penetapan akhir masih menunggu hasil survei dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Adapun kawasan yang masuk dalam pemetaan tersebut meliputi Rapak Oros di Kecamatan Linggang Bigung, Gleo Baru di Kecamatan Barong Tongkok, Empas di Kecamatan Melak, Jengan Danum di Kecamatan Damai, serta wilayah Kecamatan Bongan, Jempang, dan Siluq Ngurai.
Kepala Dinas Pertanian Kutai Barat, Stepanus Alexander Samson, mengatakan bahwa tim telah turun langsung ke lapangan untuk melakukan pengecekan awal terhadap sejumlah titik tersebut.
“Memang ada rencana cetak sawah, tapi masih di cek. Belum ada hasil final karena harus dipastikan lahannya benar-benar bisa menghasilkan,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Menurutnya, pemerintah tidak ingin program ini dilakukan secara terburu-buru tanpa mempertimbangkan keberlanjutan. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kesuburan tanah, sistem drainase, hingga ketersediaan sumber air.
“Bukan hanya tanah kosong yang dicek, semua dilihat, termasuk dukungan airnya,” tegasnya.
Ia juga menyebut, Pemerintah Provinsi Kaltim telah melakukan survei awal di sejumlah lokasi. Namun hingga kini, laporan resmi hasil survei tersebut belum diterima oleh pemerintah daerah.
“Provinsi sudah turun, tapi progresnya kami belum dapat laporan,” katanya.
Program cetak sawah ini merupakan bagian dari kebijakan Kementerian Pertanian RI dengan dukungan anggaran sekitar Rp164,7 miliar melalui Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian Kelas II Banjarbaru.
Defisit Beras Masih Tinggi
Di sisi lain, Kubar masih menghadapi defisit beras sekitar 19.000 ton per tahun. Kondisi ini membuat daerah sangat bergantung pada pasokan dari luar wilayah, sekaligus memicu fluktuasi harga di pasaran.
Akademisi Politeknik Negeri Samarinda, Edwin Halim, menilai percepatan penguatan sektor pertanian menjadi langkah mendesak untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
Ia menawarkan tiga langkah strategis, yakni percepatan pembangunan Bendungan Muara Asa yang berpotensi mengairi 2.500 hektare sawah, perbaikan irigasi teknis di wilayah Bongan, serta optimalisasi daerah irigasi Gadur seluas 100 hektare.
Menurutnya, seluruh langkah tersebut harus didukung kebijakan yang kuat, termasuk perlindungan lahan pertanian agar tidak terus beralih fungsi ke sektor lain.
“Kalau tidak dikelola serius, kita akan terus bergantung dari luar,” pungkasnya. (MK)
Pewarta: Ichal
Editor: Agus S




