PPU — Dinas Pertanian Penajam Paser Utara (PPU) mulai menyiapkan skema kemitraan agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak hanya menjadi program konsumsi, tetapi juga pasar tetap bagi petani lokal. Langkah ini sekaligus untuk menjaga keseimbangan pasokan komoditas pertanian agar tidak memicu kenaikan harga di pasar umum.
Arahan tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi Sekretaris Daerah PPU agar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, khususnya Dinas Pertanian, mengawal stabilitas pasokan dan harga pangan di tengah kebutuhan rutin SPPG.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian PPU, Gunawan, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan SPPG tidak boleh berdampak pada kelangkaan komoditas di pasar masyarakat.
“Catatan khusus dari Pak Sekda jelas, jangan sampai kebutuhan SPPG justru membuat komoditas langka atau harga naik di pasar. Keseimbangan pasokan harus dijaga,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Menurutnya, keberadaan SPPG justru menjadi peluang ekonomi baru bagi petani lokal. Dinas Pertanian mendorong petani dan pelaku usaha tani meningkatkan produksi agar kebutuhan harian SPPG yang bersifat rutin dapat terpenuhi tanpa mengganggu distribusi umum.
“Untuk komoditas lokal ini peluang besar. Petani bisa meningkatkan produksi sesuai kebutuhan SPPG. Pengelola SPPG juga sudah menyusun menu berdasarkan bahan pangan yang tersedia di sekitar,” jelasnya.
Sebagai strategi, Dinas Pertanian menyiapkan sistem koordinasi satu pintu antara petani dan pengelola SPPG. Skema ini dirancang untuk mempermudah arus informasi dan distribusi, bukan untuk menciptakan monopoli.
“Satu pintu ini bukan monopoli. Ini untuk memudahkan koordinasi. Petani tahu kebutuhan SPPG setiap hari, dan SPPG juga tahu ketersediaan komoditas di lapangan,” tegas Gunawan.
Dalam implementasinya, Dinas Pertanian membuka peluang pembentukan asosiasi gabungan kelompok tani (gapoktan) se-PPU atau melibatkan asosiasi penyuluh pertanian sebagai mediator. Setiap hari akan ada pembaruan data mengenai kebutuhan SPPG dan stok yang tersedia di tingkat petani.
“Setiap hari ada update. Komoditas apa yang dibutuhkan, berapa jumlahnya, dan berapa stok yang ada. Ini akan mempermudah kedua belah pihak,” katanya.
Ia menilai, pola kemitraan ini tidak hanya menjaga stabilitas pasokan dan harga, tetapi juga menciptakan kepastian serapan hasil pertanian. Dengan adanya pasar tetap seperti SPPG, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada fluktuasi pasar tradisional.
“Ini bisa menjadi bisnis baru bagi petani lokal. Mereka punya mitra tetap yang jelas dan berkelanjutan,” pungkasnya. (MK)
Editor: Agus S




