SAMARINDA – Harga batu bara dunia masih bertahan di level USD 105 per ton setelah sebelumnya mengalami penurunan. Stabilitas harga ini menegaskan bahwa batu bara tetap menjadi tulang punggung pasokan energi global, di tengah dorongan internasional untuk beralih ke energi bersih.
Data Badan Energi Internasional (IEA) mencatat, batu bara masih menyumbang sekitar 35 persen dari total produksi listrik dunia pada 2025. Saat ini, lebih dari 2.500 pembangkit listrik berbasis batu bara masih beroperasi di seluruh dunia, dengan Tiongkok, India, dan Amerika Serikat sebagai pengguna terbesar.
Meski tren energi terbarukan terus meningkat, banyak negara masih mempertahankan pembangkit batu bara untuk menjamin pasokan listrik nasional. Pemerintah di sejumlah kawasan bahkan tetap mendukung pembangunan proyek pembangkit baru demi memenuhi lonjakan kebutuhan energi.
Menariknya, paruh pertama 2025 menjadi titik penting dalam sejarah energi global. Untuk pertama kalinya, sumber energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin melampaui batu bara dalam kontribusi terhadap pembangkit listrik dunia. Peningkatan kapasitas EBT itu mendorong penurunan konsumsi bahan bakar fosil secara perlahan namun konsisten.
Sementara berdasarkan data Trading Economics per 16 Oktober 2025, harga batu bara turun tipis 1,18 persen ke level USD 104,60 per ton. Sebelumnya, harga sempat menyentuh di atas USD 115 per ton pada pertengahan tahun sebelum kembali melemah.
Fluktuasi ini menunjukkan fase transisi energi global yang belum sepenuhnya stabil. Batu bara masih menjadi komoditas strategis, khususnya bagi negara berkembang yang bergantung pada energi fosil untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur.
Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Agus S




