SANGATTA – Warga di Jalan Roud 9A, poros Sangatta–Bengalon, dikejutkan banjir mendadak pada Jum’at malam (3/4/2026). Tanpa hujan, air tiba-tiba meluap dan merendam permukiman hingga setinggi lutut orang dewasa.
Sedikitnya 25 kepala keluarga (KK) terdampak dalam peristiwa yang sempat viral di media sosial tersebut. Kepanikan warga tak terhindarkan karena air datang secara tiba-tiba pada malam hari.
Pantauan di lapangan, Sabtu (4/4/2026) pukul 13.00 Wita, menunjukkan sumber genangan berasal dari cekungan di lahan milik PT Kaltim Prima Coal (KPC). Area seluas sekitar 4–5 hektare dengan kedalaman 3–4 meter itu selama ini menjadi tampungan air hujan.
Air meluap setelah gorong-gorong yang sebelumnya tersumbat dibuka. Debit air yang telah lama tertahan tidak mampu dikendalikan saat saluran dialirkan, sehingga mengalir deras ke permukiman warga.
Meski sempat merendam rumah, luapan air berlangsung singkat, sekitar satu jam sebelum berangsur surut. Isu yang menyebut adanya tanggul jebol dipastikan tidak benar.
Kepala BPBD Kutai Timur, Sulastin, membenarkan kejadian tersebut. Pihaknya langsung menurunkan Tim Reaksi Cepat (RC) begitu menerima laporan dari masyarakat.
“Begitu ada laporan dari masyarakat, kami langsung turunkan tim RC ke lokasi di Kampung Tator,” ujarnya.
Dari hasil pengecekan, banjir diduga dipicu tanggul air di area genangan lahan KPC. Namun kondisi tersebut segera ditangani dan situasi kini telah kembali normal.
“Sudah aman, aktivitas masyarakat sudah kembali seperti biasa,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Singa Gembara, Hamriani Kassa, mengaku pihak desa tidak mendapat informasi sebelumnya terkait pembukaan gorong-gorong.
“Sore itu sebenarnya sudah disampaikan akan ada efek ke warga kalau dibuka, tapi kami tidak tahu. Kami tahunya setelah kejadian,” ungkapnya.
Menurutnya, pembukaan saluran dilakukan untuk mengurai genangan air yang mengarah ke jalan nasional. Namun, aliran justru masuk ke permukiman warga.
“Dari mereka membuka supaya air tidak masuk ke jalan nasional, tapi malah masuk ke kami. Sementara kami tidak ada hujan, itu yang jadi pertanyaan masyarakat,” tegasnya.
Upaya penanganan langsung dilakukan. Pemerintah desa bersama pihak terkait menutup kembali aliran air sekitar pukul 20.00 Wita. Meski demikian, dampak genangan masih terasa hingga sekitar tengah malam.
Selain merendam rumah warga, banjir juga merusak kolam ikan milik masyarakat. Saat ini, pemerintah desa masih menunggu konfirmasi dari pihak KPC terkait penanganan lanjutan atas dampak yang ditimbulkan.
Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam




