SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) langsung bergerak cepat menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah 2026. Sejumlah program strategis nasional mulai dipelajari agar bisa diadaptasi sesuai kebutuhan dan kondisi daerah.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengatakan, pihaknya telah memulai kajian terhadap berbagai arahan presiden. Salah satu yang kini menjadi perhatian adalah program gentengisasi, yang dinilai memiliki keterkaitan dengan kebutuhan perumahan layak huni di daerah.
Ardiansyah menyebut, Kalimantan memiliki bahan bangunan khas seperti sirap yang dapat disesuaikan dengan konsep program tersebut. Pemkab Kutim pun mulai mengaitkan arahan itu dengan program daerah yang telah berjalan.
“Yang pertama kali saya panggil itu kepala dinas terkait sehubungan program seribu rumah layak huni. Mudah-mudahan ini sudah bisa kita gunakan,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Selain pembangunan rumah, Ardiansyah menegaskan arahan presiden juga menyinggung pentingnya kesiapsiagaan daerah menghadapi bencana hidrometeorologi. Kutim diminta tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem sesuai peringatan BMKG.
“Masing-masing daerah harus memikirkan mitigasi, bagaimana keluar dari itu,” tegasnya.
Di sektor sosial, Ardiansyah memastikan persoalan stunting, kemiskinan, serta layanan kesehatan masih menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar. Program pemerintah pusat, termasuk BPJS, disebut tetap menjadi bagian penting dalam memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat.
“Program-program strategis terkait dengan sosial, kemanusiaan, kesehatan, ini keniscayaan bagi semua daerah,” katanya.
Tak hanya itu, Ardiansyah juga menyoroti arahan Presiden Prabowo terkait besarnya potensi industri sawit Indonesia. Ia menyebut, Kutim sebagai daerah penghasil sawit terbesar di Kalimantan Timur memiliki peluang besar untuk mengambil peran dalam penguatan hilirisasi.
Menurutnya, sawit tidak boleh hanya dipandang sebagai bahan baku minyak goreng. Sebab, komoditas ini memiliki ratusan turunan produk yang dapat menjadi penggerak ekonomi, mulai dari biodiesel hingga kebutuhan industri lainnya.
“Sawit itu jangan hanya dihubungkan dengan minyak goreng. Sawit solusi untuk biodiesel, kosmetik, kesehatan. Ada 100 turunan sawit. Kalau ini jadi komoditas utama, masa depan kita sangat baik,” jelasnya.
Ardiansyah bahkan mengaku menjadi orang pertama yang bertepuk tangan saat presiden memaparkan peluang besar industri sawit nasional. Pasalnya, Kutim sejak lama telah menyiapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy sebagai pusat industri pengolahan sawit.
“Kita menunggu kunjungan gubernur untuk evaluasi. Ketua KEK itu gubernur, jadi kita tunggu arahan selanjutnya,” tambahnya.
Ardiansyah menegaskan masih banyak poin lain dalam Rakornas yang perlu dikaji lebih lanjut. Namun ia memastikan Pemkab Kutim berada di jalur yang tepat untuk menyelaraskan program pemerintah pusat dengan agenda pembangunan daerah, agar manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat.
Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam




