Tingkatkan Kunjungan Posyandu, Dinkes Bikin Strategi Jemput Bola

SANGATTA – Rendahnya kunjungan ibu membawa bayi dan balita ke Posyandu masih menjadi pekerjaan rumah serius dalam upaya penurunan stunting di Kutai Timur (Kutim). Kondisi ini mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim menggeber strategi jemput bola, agar pemantauan tumbuh kembang anak tidak terputus.

Kepala Dinkes Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, mengungkapkan partisipasi masyarakat terhadap layanan Posyandu hingga kini belum sesuai harapan. Padahal, penimbangan dan pengukuran rutin menjadi langkah awal mendeteksi gangguan pertumbuhan anak, termasuk stunting.

“Jumlah ibu-ibu yang membawa bayinya ke Posyandu masih kurang, masih jauh dari harapan kita,” sebutnya.

Yuwana menjelaskan, rendahnya kunjungan Posyandu dipicu berbagai faktor. Kesibukan orang tua yang bekerja menjadi alasan utama. Selain itu, ada pula rasa malu dari sebagian ibu ketika anaknya dinilai mengalami masalah gizi.

“Ketika sudah merasa malu, mereka justru enggan kembali ke Posyandu. Ini yang berbahaya, karena anak akhirnya tidak terpantau secara berkala,” jelasnya.

Untuk memutus kondisi tersebut, Dinkes Kutim mendorong penguatan peran Dasawisma sebagai ujung tombak pendekatan langsung ke masyarakat. Unit kegiatan yang mencakup sekitar 10 rumah tangga ini dinilai lebih efektif menjangkau keluarga secara personal.

Baca Juga:  Monitoring Posyandu, Maria Christina Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Kampung

“Melalui Dasawisma, kader akan mendatangi rumah-rumah warga, menanyakan alasan ibu tidak datang ke Posyandu, lalu melakukan pendekatan agar mau kembali memeriksakan anaknya,” kata Yuwana.

Selain pendekatan langsung, wajah Posyandu juga didorong agar lebih ramah anak. Suasana dibuat lebih menyenangkan, dilengkapi mainan dan aktivitas pendukung, sehingga anak tidak takut dan ibu merasa lebih nyaman datang.

Di sisi lain, Pemerintah Kutim turut menguatkan intervensi melalui program unggulan di bidang kesehatan. Salah satunya program pemberian susu dan buah gratis bagi anak sekolah serta ibu hamil yang masuk dalam 50 program unggulan Bupati Kutim.

“Program ini bukan hanya pencegahan, tetapi juga intervensi. Ada Gerimis atau Gerakan Minum Susu untuk anak sekolah, dan ada pangan olahan khusus bagi anak dengan kondisi gizi bermasalah,” terangnya.

Program Gerimis menyasar siswa SD, SMP, serta TK dan PAUD. Penyaluran susu dilakukan rutin setiap pekan langsung ke sekolah. Namun, Dinkes menekankan pentingnya pengawasan agar program tepat sasaran.

“Yang penting diminum oleh anaknya. Jangan sampai justru dikonsumsi orang tuanya,” tegas Yuwana.

Baca Juga:  Rambu Minim, Dua Persimpangan di Bypass Sepaku Bikin Bingung dan Rawan Kecelakaan

Ia menambahkan, pelaksanaan program penanganan stunting ini dilakukan secara kolaboratif dengan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), khususnya dalam pendampingan keluarga berisiko stunting.

Dengan kombinasi penguatan Posyandu, strategi jemput bola melalui Dasawisma, serta dukungan program unggulan daerah, Pemkab Kutim berharap percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih efektif dan benar-benar berdampak di lapangan.

“Kalau anak tidak pernah ditimbang dan diukur, kita tidak tahu ada masalah atau tidak. Karena itu, kami harapkan ibu-ibu mau datang ke Posyandu. Kalau tidak bisa datang, kami yang akan mendatangi,” pungkas Yuwana.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.