BONTANG – Warga di Jalan Pemakaman, Kampung Ramah RT 01, Kelurahan Kanaan mengeluhkan aktivitas tambang galian C. Juga truk yang berlalu lalang membawa bahan baku pasir dari aktivitas tambang tersebut.
Saini salah seorang warga yang sudah tinggal di sana sejak 10 tahun yang lalu, merasakan dampaknya sejak tahun 2015.

Ia menceritakan, sejak aktivitas tambang berlangsung, debu tanah akibat lalu lalang truk yang lewat selalu ia terima, bahkan hingga mengalami gangguan pernapasan dan penglihatan.
“Sudah minta tolong sama mereka untuk disiram aja jalannya nggak mau. Padahal biar debunya nggak betebaran,” ungkapnya
Ia juga menjelaskan, getaran dari kendaraan yang berlalu lalang cukup lama menyebabkan pergeseran tanah, sehingga beberapa titik di rumahnya retak.

“Di tembok dan di lantai ada retak, gara-gara tanah geser dua pintu juga sulit ditutup, itu pintu depan salah satunya,” tambahnya.
Meskipun setelah dilakukan mediasi antara warga dan penambang oleh Kapolsek Bontang Barat, aktivitas tambang telah dihentikan, Jum’at (10/10/2025) lalu, ia pesimis aktivitas itu tidak dihentikan sepenuhnya. Lantaran alat berat untuk mengeruk tanah material tidak ditarik dari lokasi penambangan.
“Paling tiga sampe empat hari mereka kembali,” ketusnya
Warga lainnya Akbar mengatakan, lokasi tambang berada di ujung gang pemakaman. Selain debu aktivitas pengerukan tanah menyebabkan banjir disertai lumpur. “Makanya kami protes soalnya sudah berdampak ke warga,” jelasnya
Kata dia setelah mediasi dilakukan, aktivitas tambang memang berhenti. Tetapi setelah mediasi dilakukan pada Jumat lalu, jalan depan gang tersebut ditutup dengan menggunakan material tanah. Sehingga aktivitas warga terhambat.
“Belum tau siapa yang menutup, apakah pemilik lahan yang tanahnya dikelola penambang, atau penambang itu sendiri,” terangnya
Ia berharap kepada pemerintah, untuk turun menyelesaikan persoalan akses warga yang tertutup. Lantaran jalan gang tersebut merupakan akses satu satunya agar warga bisa ber-aktivitas.
Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam




