BONTANG — Di tengah permukiman pesisir Bontang Kuala, berdiri sebuah bangunan sederhana dari kayu ulin yang menyimpan jejak panjang perjalanan Islam di Kota Taman. Masjid Tua Al Wahhab bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga saksi awal tumbuhnya peradaban Islam di wilayah pesisir Bontang sejak lebih dari dua abad lalu.
Berdasarkan catatan sejarah yang terpampang di area masjid, rumah ibadah ini telah berdiri sejak tahun 1789 Masehi. Artinya, usia Masjid Al Wahhab kini telah mencapai sekitar 235 tahun. Usia yang menjadikannya sebagai salah satu masjid tertua di wilayah Bontang sekaligus simbol awal perkembangan Islam di kawasan tersebut.
Masjid ini didirikan oleh Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi, seorang ulama yang dikenal sebagai tokoh penyebar Islam di Bontang Kuala pada masa itu. Makam beliau hingga kini berada tidak jauh dari lokasi masjid, menjadi bagian dari jejak sejarah yang terus dihormati masyarakat setempat.
Secara fisik, bangunan utama masjid masih mempertahankan konstruksi awal yang terbuat dari kayu ulin. Material khas Kalimantan ini dikenal memiliki ketahanan tinggi terhadap cuaca dan usia. Ukuran bangunan utamanya sekitar 11 x 11 meter, dengan bentuk arsitektur yang memadukan unsur Bugis, Kalimantan, Demak, dan Sumatra.
Bendahara masjid, Rakim, menjelaskan bahwa sebagian besar bagian dalam bangunan masih mempertahankan bentuk asli sejak pertama kali didirikan.
“Yang di dalam ini masih asli. Jendela dan struktur kayunya tetap dipertahankan. Penambahan hanya dilakukan di bagian luar untuk menjaga kayunya tetap awet,” ujarnya.
Keaslian bangunan inilah yang membuat Masjid Al Wahhab tidak hanya bernilai religius, tetapi juga historis.
Suasana masjid ini terasa berbeda setiap memasuki bulan Ramadan. Jamaah yang datang untuk menunaikan salat tarawih meningkat signifikan dibanding hari biasa. Bahkan pada malam-malam tertentu, jamaah meluber hingga ke luar bangunan utama.
“Kalau Ramadan pasti meningkat. Kadang sampai penuh sekali,” kata Rakim.
Tradisi tadarus Al-Qur’an setiap selesai tarawih menjadi kegiatan rutin yang terus dipertahankan. Selain itu, pada sepuluh malam terakhir Ramadan, jamaah juga melaksanakan i’tikaf bersama.
Menariknya, tradisi kebersamaan juga terlihat dari penyediaan menu buka puasa bersama. Makanan untuk jamaah berasal dari sumbangan warga sekitar. Setiap RT di wilayah Bontang Kuala secara bergantian menyediakan hidangan berbuka bagi jamaah masjid.
Efendi, salah seorang jamaah yang telah empat tahun rutin beribadah di masjid tersebut, mengaku merasakan nuansa spiritual yang berbeda saat berada di masjid bersejarah itu.
“Suatu kebanggaan bisa beribadah di masjid tua ini,” ujarnya.
Ia menilai kebersamaan masyarakat di sekitar masjid tetap terjaga meski zaman terus berubah. Warga tetap hadir untuk menjaga tradisi ibadah sekaligus merawat warisan sejarah yang telah berusia ratusan tahun.
Namun di balik nilai sejarahnya yang besar, pengelolaan masjid juga menghadapi tantangan regenerasi. Rakim mengatakan pengurus masjid mulai melibatkan generasi muda melalui pembentukan Ikatan Remaja Masjid (IRMA).
“Kita tidak selamanya yang tua-tua ini yang mengurus. Harus ada penerus,” katanya.
Selama Ramadan, IRMA ikut membantu berbagai kegiatan, mulai dari persiapan buka puasa bersama hingga menjaga kebersihan lingkungan masjid. Meski demikian, sebagian anggota yang merantau membuat keterlibatan generasi muda belum sepenuhnya optimal.
Anggota IRMA, Dika, menjelaskan bahwa pendekatan untuk mengajak anak muda terlibat dalam kegiatan masjid dilakukan secara informal melalui komunikasi langsung dan pertemanan.
“Kami mengajak perlahan, misalnya dengan salat bersama. Alhamdulillah anak-anak di sekitar sini cukup antusias ikut kegiatan,” ujarnya.
Promosi kegiatan masjid hingga kini juga masih dilakukan secara sederhana dari mulut ke mulut dan belum memanfaatkan media sosial secara maksimal.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, Masjid Tua Al Wahhab tetap berdiri kokoh dengan struktur kayu ulin yang hampir seluruhnya masih asli. Bangunan sederhana itu menjadi pengingat bahwa sejarah dakwah ulama abad ke-18 tidak hanya meninggalkan warisan fisik, tetapi juga identitas spiritual bagi masyarakat Bontang Kuala.
Pewarta: Syakurah
Editor: Yusva Alam/Agus S









