BONTANG – BPBD Bontang mencatat, sejak awal September 2025 hingga 28 September 2025, telah terjadi dua kali banjir, tujuh kali karhutla, dan enam kali longsor di sejumlah titik, seperti Tanjung Laut, Gunung Elai, Belimbing, dan Telihan.
Hal ini membuktikkan Kota Bontang memiliki kerawanan tinggi terhadap empat jenis bencana utama, yaitu banjir, longsor, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang laut tinggi.
Meski berskala kecil, kejadian tersebut cukup mengganggu aktivitas masyarakat serta menimbulkan kerugian material.
Kondisi ini sesuai dengan prediksi BMKG yang memperkirakan adanya peningkatan intensitas hujan. Selain itu, Kota Bontang juga sempat mengalami suhu udara tinggi mencapai 34°C, yang memperbesar risiko karhutla karena semak belukar kering mudah terbakar.
Dengan fenomena perubahan cuaca ekstrem yang cepat, dari panas terik tiba-tiba turun hujan deras, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan. Beberapa langkah antisipasi yang ditekankan, seperti menyimpan dokumen dan barang berharga di tas khusus agar mudah dibawa saat evakuasi, bergotong royong membersihkan saluran drainase untuk mencegah banjir, membantu pengawasan potensi karhutla di lingkungan sekitar, meningkatkan koordinasi antar-OPD dan relawan dalam persiapan kondisi darurat.
“Selain itu, ada pula potensi kegagalan teknologi mengingat keberadaan kawasan industri petrokimia, pertolium, gas, dan pengolahan minyak kelapa sawit,” ungkap Kabid Pencegahan dan Penanggulangan BPBD Bontang, Eko Mashudi, Sabtu (26/9/2025)
Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam




